Thursday, 29 October 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

Jadi Narasumber FGD Polda Lampung, Donald Harris Sihotang: Jangan Hancurkan Masa Depan karena Tawuran dan Narkoba

29 October 2026 15:00 WIB
Oleh: Ahmad Fauzi
Dibaca: 6 kali
Bagikan:
Jadi Narasumber FGD Polda Lampung, Donald Harris Sihotang: Jangan Hancurkan Masa Depan karena Tawuran dan Narkoba
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

Kupastuntas.co, Bandar Lampung – Direktur Utama Kupas Tuntas Group, Dr. Donald Harris Sihotang, S.E., M.M., mengingatkan para pelajar agar tidak menghancurkan masa depan hanya karena ingin dianggap hebat oleh teman sebaya, terlibat tawuran, penyalahgunaan narkoba, maupun tindakan perundungan (bullying).

Pesan tersebut disampaikan Donald saat menjadi narasumber dalam aktivitas Focus Group Discussion (FGD) Pencegahan dan Penanggulangan Kenakalan Remaja di Kalangan Pelajar yang diselenggarakan Direktorat Pembinaan Masyarakat (Ditbinmas) Polda Lampung, di Hotel Golden Tulip Springhill, Bandar Lampung, Kamis (29/10/2026).

aktivitas tersebut diikuti para pelajar yang merupakan pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dari berbagai kabupaten/kota se-Provinsi Lampung.

FGD juga menghadirkan narasumber dari kalangan praktisi, akademisi, serta pejabat Dinas Pendidikan Provinsi Lampung.

Donald Harris Sihotang, yang juga merupakan tenaga ahli anggota komisi III DPR RI dan dosen Pascasarjana Magister Manajemen Universitas Saburai, menyampaikan materi bertajuk "Pelajar Hebat, Generasi Kuat: Stop Tawuran, Bullying, Narkoba, dan Kenakalan Remaja."

Dalam pemaparannya, Donald memastikan bahwa pengurus OSIS bukanlah pelajar biasa. Mereka merupakan siswa yang telah mendapatkan kepercayaan untuk menjadi pemimpin dan teladan bagi teman-temannya di sekolah.

Menurutnya, kepercayaan tersebut harus diwujudkan melalui perilaku positif, kepedulian terhadap sesama, serta keberanian mencegah berbagai bentuk kenakalan remaja.

"Menjadi pengurus OSIS bukan sekadar memiliki jabatan, tetapi memiliki tanggung jawab untuk membawa perubahan. Kalian harus menjadi teladan, penggerak, pelopor, sekaligus agen perubahan di lingkungan sekolah," ujar Donald.

Tawuran Bukan Keberanian, tetapi Ancaman Masa Depan

Dalam materinya, Donald menyoroti berbagai persoalan kenakalan remaja yang masih menjadi ancaman bagi dunia pendidikan, mulai dari tawuran antarpelajar, bullying, penyalahgunaan narkoba, balap liar, kekerasan fisik dan verbal, hingga judi online.

Ia menjelaskan, kenakalan remaja sering kali dipicu oleh pengaruh pergaulan negatif, tekanan teman sebaya, keinginan mendapatkan pengakuan kelompok, serta ketidakmampuan mengendalikan emosi.

Di era digital, persoalan tersebut semakin kompleks karena konflik antarpelajar juga dapat dipicu oleh saling ejek, provokasi, dan tantangan melalui media sosial maupun grup percakapan.

Donald mengingatkan bahwa tawuran bukanlah bentuk keberanian atau solidaritas, melainkan tindakan yang dapat menimbulkan korban jiwa, persoalan hukum, serta menghancurkan masa depan pelajar.

"Jangan pernah menghancurkan masa depan yang sedang kalian bangun hanya karena ingin dianggap hebat oleh teman-teman kalian. Jangan merasa hebat karena berani tawuran, jangan merasa kuat karena mampu menyakiti orang lain," tegasnya.

Menurut Donald, keberanian sejati justru terlihat ketika seseorang mampu menolak ajakan yang salah, mengendalikan emosi, serta menyelesaikan persoalan melalui dialog.

"Solidaritas sejati bukan membela teman yang salah, tetapi berani mencegah teman melakukan kesalahan. Nama baik sekolah dibangun dengan prestasi, bukan dengan kekerasan," katanya.

Bullying Bisa Menghancurkan Kepercayaan Diri Korban

Selain tawuran, Donald memberikan perhatian khusus terhadap persoalan bullying yang kerap terjadi di lingkungan sekolah maupun media sosial.

Ia menjelaskan bahwa perundungan tidak hanya berupa kekerasan fisik, tetapi juga dapat berbentuk penghinaan, ejekan, ancaman, pengucilan, hingga penyebaran foto atau video yang mempermalukan seseorang.

Dampaknya dapat berupa hilangnya kepercayaan diri, gangguan konsentrasi belajar, kecemasan, hingga menurunnya prestasi akademik.

Karena itu, pengurus OSIS diharapkan menjadi bagian dari solusi dengan membangun budaya saling menghormati dan membantu teman yang mengalami perundungan.

"Bercanda membuat semua orang tertawa, sedangkan bullying membuat seseorang terluka. Jangan menjadi penonton ketika temanmu disakiti. Jadilah orang yang berani membantu dan melindungi," pesannya.

Namun, Donald mengingatkan bahwa pengurus OSIS bukanlah aparat penegak disiplin di sekolah.

Apabila menemukan kasus kekerasan atau perundungan, pengurus OSIS harus melaporkannya kepada guru, guru bimbingan konseling, atau pihak sekolah agar ditangani secara tepat.

Ingatkan Bahaya Narkoba dan Judi Online

Donald juga mengingatkan para pelajar agar tidak mencoba narkoba hanya karena rasa penasaran atau pengaruh lingkungan pertemanan.

Menurutnya, penyalahgunaan narkoba dapat merusak kesehatan fisik dan mental, menimbulkan ketergantungan, mengganggu pendidikan, serta membawa pelajar berhadapan dengan persoalan hukum.

Ia memperkenalkan langkah sederhana untuk menolak ajakan narkoba melalui singkatan TOLAK, yakni tegas menyampaikan tidak, optimalkan keberanian menjaga diri, langsung meninggalkan situasi berisiko, ajak teman melakukan aktivitas positif, dan konsultasikan persoalan kepada orang dewasa yang dipercaya.

"Jangan korbankan masa depan hanya karena rasa penasaran sesaat," ujarnya.

Selain narkoba, Donald menyoroti bahaya judi online yang semakin mudah diakses melalui perangkat digital.

Ia mengingatkan bahwa janji keuntungan instan dari perjudian justru dapat menyebabkan kerugian keuangan, utang, konflik keluarga, dan terganggunya pendidikan.

"Kesuksesan dibangun melalui kerja keras, bukan dengan mempertaruhkan uang dan masa depan," tegasnya.

Ajak Pelajar Bijak Bermedia Sosial

Sebagai praktisi media, Donald juga memberikan pemahaman mengenai pentingnya literasi digital dan tanggung jawab dalam menggunakan media sosial.

Menurutnya, perkembangan teknologi digital membuka peluang besar bagi pelajar untuk belajar, berkarya, mengembangkan kreativitas, serta mempromosikan prestasi sekolah.

Namun, media sosial juga memiliki risiko berupa penyebaran hoaks, cyberbullying, ujaran kebencian, penipuan online, hingga penyalahgunaan data pribadi.

Donald mengingatkan bahwa setiap unggahan di media sosial dapat meninggalkan jejak digital yang berpengaruh terhadap reputasi seseorang pada masa mendatang.

"Jari kita boleh cepat mengetik, tetapi pikiran harus lebih cepat mempertimbangkan akibatnya," katanya.

Ia secara khusus mengingatkan para pelajar agar tidak menjadikan peristiwa tawuran, kekerasan, maupun bullying sebagai konten untuk mencari popularitas.

Menurutnya, ketika menyaksikan tindakan kekerasan, hal utama yang harus dilakukan adalah mengutamakan keselamatan, mencari bantuan, dan melaporkan kejadian kepada pihak berwenang.

"Tidak semua peristiwa harus diviralkan. Ada saatnya kita harus mengutamakan keselamatan dan kemanusiaan," ujarnya.

Donald juga mengajak pengurus OSIS menjadi kreator konten positif dengan membuat video edukasi antikekerasan, kampanye anti-bullying, dokumentasi prestasi siswa, serta konten yang mempererat persahabatan antarsekolah.

"Jangan hanya menjadi penonton di dunia digital. Jadilah pencipta karya yang membawa manfaat," pesannya.

Dorong OSIS se-Lampung Bangun Persahabatan Antarsekolah

Dalam kesempatan tersebut, Donald mendorong pengurus OSIS dari berbagai kabupaten/kota di Provinsi Lampung untuk membangun komunikasi dan kerja sama antarsekolah.

Menurutnya, persaingan antarsekolah seharusnya diarahkan pada aktivitas positif, seperti prestasi akademik, olahraga, seni, kreativitas, dan aktivitas sosial.

Ia mengusulkan lima program yang dapat dikembangkan pengurus OSIS di sekolah masing-masing, yakni OSIS Anti-Bullying, OSIS Anti-Tawuran, OSIS Cerdas Digital, OSIS Peduli Teman, dan OSIS Berprestasi.

Donald memiliki harapan setiap pengurus OSIS yang mengikuti FGD dapat membawa pulang minimal satu program nyata untuk diterapkan di sekolah masing-masing.

Selain itu, ia mendorong terbentuknya komunikasi antarpengurus OSIS melalui aktivitas olahraga persahabatan, festival seni dan budaya, bakti sosial, serta kampanye digital antikekerasan.

"Beda sekolah bukan berarti bermusuhan. Beda seragam bukan berarti harus berlawanan. Kita semua adalah generasi penerus bangsa," ungkapnya.

Menurut Donald, pengurus OSIS harus memiliki lima karakter utama sebagai calon pemimpin masa depan, yakni integritas, disiplin, keberanian, kepedulian, dan tanggung jawab.

"Pemimpin sejati bukan orang yang paling ditakuti, melainkan orang yang paling dipercaya," tambahnya.

Ingatkan Perjuangan Orang Tua Membiayai Pendidikan Anak

Menjelang akhir penyampaian materi, Donald memberikan pesan khusus yang menyentuh tentang perjuangan orang tua dalam membesarkan dan menyekolahkan anak-anaknya.

Ia mengajak para pelajar mengingat kembali pengorbanan orang tua yang setiap hari bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarga dan membiayai pendidikan anak-anak mereka.

Menurutnya, tidak semua orang tua menginginkan anaknya menjadi orang paling kaya atau paling terkenal.

Namun, setiap orang tua tentu memiliki harapan anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik, berhasil, dan memiliki masa depan yang lebih baik.

"Ingatlah perjuangan orang tua kalian. Ada yang bekerja dari pagi hingga malam, menjadi petani, buruh, pedagang, pegawai, atau menjalankan pekerjaan apa pun demi membiayai pendidikan anak-anaknya," ujarnya.

"Jangan kecewakan perjuangan mereka hanya karena tawuran, narkoba, bullying, atau pergaulan yang salah. Jadikan pendidikan sebagai jalan menuju cita-cita, prestasi sebagai kebanggaan, dan karakter yang baik sebagai bekal kehidupan," lanjutnya.

Donald juga mengingatkan bahwa di antara para pengurus OSIS yang hadir, bukan tidak mungkin kelak ada yang menjadi dokter, polisi, tentara, pengusaha, wartawan, dosen, anggota DPR, kepala daerah, bahkan Presiden Republik Indonesia.

Namun, menurutnya, semua cita-cita tersebut harus dipersiapkan sejak usia muda melalui pendidikan, kedisiplinan, kerja keras, dan karakter yang baik.

Jangan Hanya Bercita-cita Menjadi Orang Sukses

Mengakhiri materinya, Donald memiliki harapan para pengurus OSIS tidak hanya pulang membawa sertifikat, foto bersama, atau kenangan dari aktivitas FGD tersebut.

Ia meminta para pelajar membawa pulang komitmen untuk melakukan perubahan nyata, dimulai dari diri sendiri, teman terdekat, kelas, hingga lingkungan sekolah.

"Saya memiliki harapan setelah pulang dari aktivitas ini, kalian tidak hanya membawa sertifikat, foto bersama, atau kenangan. Tetapi kalian pulang membawa tekad untuk melakukan perubahan," pesannya.

Donald memastikan bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai oleh orang yang memiliki jabatan tinggi, tetapi sering kali lahir dari anak-anak muda yang memiliki keberanian, kepedulian, dan kemauan untuk bertindak.

Ia memiliki harapan para pengurus OSIS yang hadir kelak menjadi generasi yang membanggakan keluarga, sekolah, Provinsi Lampung, serta bangsa Indonesia.

"Ingatlah, masa depan kalian terlalu berharga untuk dipertaruhkan dalam tawuran. Cita-cita kalian terlalu tinggi untuk dihancurkan oleh narkoba. Dan harga diri kalian terlalu mulia untuk dibangun dengan cara merendahkan orang lain," tegasnya.

Donald kemudian menutup materinya dengan sebuah pesan inspiratif kepada seluruh peserta.

"Jangan hanya bercita-cita menjadi orang sukses. Bercita-citalah menjadi orang sukses yang bermanfaat bagi sesama."

Menurutnya, keberhasilan sesungguhnya bukan hanya ketika seseorang mampu mengangkat derajat dirinya sendiri, tetapi juga ketika kehadirannya mampu memberikan manfaat bagi orang lain.

"Jadilah kebanggaan orang tua kalian, jadilah kebanggaan sekolah kalian, jadilah kebanggaan Provinsi Lampung, dan jadilah generasi yang kelak membawa Indonesia menjadi bangsa yang semakin maju, damai, dan bermartabat," pungkasnya. (*)

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari