Tuesday, 18 August 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

Harga Beras Premium di Tanggamus Melonjak, Emak-Emak: Uang Belanja Makin Tercekik

18 August 2026 11:00 WIB
Oleh: Ahmad Fauzi
Dibaca: 1 kali
Bagikan:
Harga Beras Premium di Tanggamus Melonjak, Emak-Emak: Uang Belanja Makin Tercekik
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

Kenaikan harga kebutuhan pokok di Kabupaten Tanggamus kian dirasakan masyarakat, terutama kalangan ibu rumah tangga. Tidak hanya beras, harga bumbu dapur dan sayur-mayur juga dikeluhkan terus meningkat, sehingga uang belanja harian semakin cepat habis.

Di Kecamatan Kotaagung, Kotaagung Timur, dan Kotaagung Barat, harga beras premium produksi lokal Kecamatan Kotaagung Timur mengalami kenaikan dalam hampir sebulan terakhir.

Beras premium merek PM tercatat mengalami kenaikan paling tinggi. Jika sebelumnya dijual Rp150.000 per sak isi 10 kilogram, kini harganya mencapai Rp165.000 per sak. Artinya, harga beras PM naik Rp15.000 per sak, atau dari sekitar Rp15.000 menjadi Rp16.500 per kilogram.

Sementara itu, beras premium merek LS juga mengalami kenaikan. Harga yang sebelumnya Rp150.000 per sak kini menjadi Rp155.000 per sak, atau naik Rp5.000 per sak.

Kenaikan dua merek beras premium tersebut sangat dikeluhkan warga, terutama kalangan emak-emak yang sehari-hari mengatur kebutuhan rumah tangga.

“Yang paling terasa itu beras PM. Dulu Rp150.000, sekarang sudah Rp165.000. Naiknya Rp15.000 sekaligus. Buat kami yang mengatur uang belanja, ini berat,” ujar Marlina, seorang ibu rumah tangga di Kotaagung.

Menurut dia, kenaikan harga beras datang pada saat kondisi ekonomi keluarga belum sepenuhnya membaik.

“Cari uang sekarang susah. Suami kerja serabutan, penghasilan tidak tentu. Sementara kebutuhan makan tidak bisa ditunda,” katanya.

Keluhan serupa disampaikan Farida,  ibu rumah tangga lainnya di Kotaagung Barat. Ia mengungkapkan kenaikan harga pangan kini terjadi hampir bersamaan.

“Beras naik, cabai naik, bawang mahal, sayuran juga tidak murah. Kalau semuanya naik seperti ini, uang belanja cepat sekali habis,” ujarnya.

Ia mengaku kini harus lebih cermat ketika berbelanja di pasar.

“Dulu membawa uang Rp100.000 masih cukup untuk beberapa kebutuhan. Sekarang belum tentu. Harus memilih mana yang benar-benar penting,” katanya.

Keluhan warga tidak berhenti pada harga beras. sebagian ibu rumah tangga mengungkapkan harga berbagai bahan pangan lainnya juga terasa meningkat, mulai dari cabai, bawang merah, bawang putih, tomat hingga beberapa jenis sayuran.

Sebagian warga menduga meningkatnya permintaan bahan pangan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) ikut memberi tekanan terhadap harga di pasar.

“Program MBG tentu bagus karena untuk anak-anak. Tetapi kami mengharapkan pemerintah juga memperhatikan kebutuhan masyarakat di pasar. Jangan sampai permintaan bahan makanan meningkat lalu harga ikut melonjak,” kata Sugi, seorang warga Kotaagung Timur.

Warga lainnya meminta pemerintah segera menelusuri penyebab kenaikan harga tersebut.

“Kalau memang karena pasokan berkurang, harus dicari solusinya. Kalau karena permintaan meningkat, pemerintah juga harus mengantisipasi. Masyarakat kecil jangan terus yang menanggung,” ujarnya.

Namun, kenaikan harga pangan tersebut belum dapat dipastikan semata-mata disebabkan oleh program MBG. Harga bahan pangan juga dipengaruhi berbagai faktor lain, seperti musim, hasil panen, distribusi, biaya transportasi, serta pasokan dari daerah sentra produksi.

Karena itu, warga mengharapkan pemerintah daerah melakukan pengecekan langsung terhadap rantai pasok dan perkembangan harga di pasar.

Kalangan ibu rumah tangga menjadi kelompok yang paling vokal menyampaikan keluhan. Mereka menilai pemerintah tidak cukup hanya menggelar pasar murah sesekali, tetapi perlu memastikan harga kebutuhan pokok tetap terkendali.

“Pemerintah harus turun tangan. Jangan menunggu harga semakin tinggi. Kami masyarakat kecil hanya ingin beras dan bahan makanan tetap bisa dibeli,” kata Erni, seorang ibu rumah tangga di Kotaagung.

Menurut warga, kenaikan Rp15.000 per zak untuk beras PM bukan angka kecil bagi keluarga dengan penghasilan pas-pasan.

Jika satu keluarga membutuhkan dua zak beras premium dalam sebulan, tambahan pengeluaran khusus untuk beras PM mencapai Rp30.000 setiap bulan, atau sekitar Rp360.000 dalam setahun. Tambahan itu belum termasuk kenaikan harga bahan pangan lainnya.

“Kalau hanya satu barang yang naik mungkin masih bisa diatasi. Tetapi sekarang hampir semua kebutuhan dapur ikut mahal. Itu yang membuat kami khawatir,” ujar Nining, warga lainnya.

Kenaikan harga beras dan bahan pangan lainnya memperlihatkan tekanan yang sedang dihadapi rumah tangga berpenghasilan rendah.

Beras merupakan kebutuhan pokok yang sulit dikurangi. Ketika harganya naik, keluarga biasanya terpaksa mengurangi belanja lauk-pauk atau kebutuhan lainnya agar pengeluaran tetap sesuai kemampuan.

Kondisi itu membuat warga mengharapkan pemerintah Kabupaten Tanggamus segera mengambil langkah nyata, mulai dari pemantauan harga di pasar, memastikan pasokan beras dan bahan pangan mencukupi, hingga memperluas distribusi pangan bersubsidi bagi masyarakat.

Bagi emak-emak di Kotaagung, Kotaagung Timur, dan Kotaagung Barat, kenaikan harga bukan sekadar angka di papan harga pasar.

Beras PM yang melonjak Rp15.000 per zak, beras LS yang naik Rp5.000, ditambah mahalnya cabai, bawang, bumbu dapur, dan sayur-mayur, telah membuat uang belanja rumah tangga semakin tertekan.

Mereka kini mendesak pemerintah segera turun tangan mengendalikan harga pangan sebelum kenaikan tersebut semakin membebani keluarga-keluarga kecil yang pendapatannya tidak ikut meningkat. (*)

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari