BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
5,20 persen pada 2025. Namun, capaian tersebut belum sepenuhnya mencerminkan pemerataan kesejahteraan masyarakat. Badan Pusat Statistik (BPS) masih mencatat angka kemiskinan di Kota Metro sebesar 6,44 persen.
Selain itu, tingkat pengangguran terbuka tercatat 3,54 persen, sementara Indeks infrastruktur dan pengembangan Manusia (IPM) mencapai 81,22.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi masih perlu diikuti upaya memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Persoalan tersebut menjadi perhatian dalam agenda Nusantara Youth Expo 2026 di UIN Jurai Siwo Lampung, Senin (2/11/2026).
Dalam agenda itu, Wakil Wali Kota Metro, Dr. M. Rafieq Adi Pradana, menekankan bahwa keberhasilan infrastruktur dan pengembangan tidak cukup diukur melalui angka pertumbuhan ekonomi.
Menurutnya, infrastruktur dan pengembangan harus memberikan dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, mulai dari terbukanya lapangan pekerjaan, berkembangnya usaha, hingga meningkatnya taraf hidup, terutama bagi generasi muda.
"Kemajuan bangsa bukan hanya urusan angka, melainkan kualitas kehidupan manusianya. Angka pertumbuhan itu penting, tetapi belum menjamin kesempatan yang merata," kata Rafieq saat menjadi keynote speaker.
Ia menjelaskan, tantangan pemerataan ekonomi juga terlihat dari kondisi ketenagakerjaan dan akses generasi muda terhadap peluang produktif.
Berdasarkan data BPS, tingkat pengangguran nasional pada Mei 2026 mencapai 4,65 persen, meskipun ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen pada triwulan II 2026.
Persoalan lainnya adalah masih banyak pemuda yang tidak bersekolah, tidak bekerja, maupun tidak mengikuti pelatihan atau kelompok NEET. Persentasenya mencapai 19,44 persen secara nasional pada 2025 dan 18,07 persen di Provinsi Lampung.
"Kondisi tersebut menjadi peringatan bahwa masih banyak anak muda yang belum memperoleh ruang untuk mengembangkan potensi dan kemandirian ekonomi. Kita tidak cukup menghitung berapa yang berhasil, kita juga harus memperhatikan mereka yang belum mendapat kesempatan," ujarnya.
Rafieq juga menyoroti kesenjangan antara pendidikan dan kebutuhan dunia kerja. Menurutnya, ijazah tidak otomatis menjamin seseorang memiliki keterampilan yang dibutuhkan perusahaan maupun kemampuan untuk membangun usaha secara mandiri.
Karena itu, pendidikan perlu lebih diarahkan pada penguasaan keterampilan praktis, pengalaman, serta kemampuan menyelesaikan persoalan di tengah masyarakat.
"Karena itu, pendidikan harus lebih dekat dengan praktik, pengalaman, dan kemampuan menyelesaikan persoalan. Ijazah membuktikan proses pendidikan, kemampuan memecahkan masalah membuktikan ilmu tersebut benar-benar bermanfaat," jelasnya.
Ia mendorong mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi agar tidak hanya berorientasi mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan peluang ekonomi. Salah satunya dengan membantu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam pemasaran produk, pengelolaan keuangan, peningkatan pelayanan, hingga pengembangan inovasi usaha.
Menurutnya, perkembangan teknologi digital turut membuka kesempatan bagi generasi muda untuk mengembangkan usaha.
Data Bank Indonesia hingga Juni 2026 mencatat QRIS telah digunakan oleh 65,77 juta pengguna dan diterima 44,86 juta pelaku usaha, yang sebagian besar merupakan UMKM.
Namun, pemanfaatan teknologi harus diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, bukan sekadar memenuhi kebutuhan konsumsi dan transaksi.
"Teknologi seharusnya menjadi alat produksi, bukan semata-mata sarana konsumsi. Kami juga mendorong pemuda memanfaatkan kecerdasan buatan untuk meningkatkan produktivitas tanpa mengabaikan etika dan keamanan data," tuturnya.
Untuk memperkuat perekonomian daerah, ia menilai diperlukan kerja sama antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan komunitas pemuda.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperluas akses pasar, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, serta mendorong lahirnya usaha baru.
Potensi ekonomi kreatif dan kebudayaan lokal juga dinilai dapat menjadi sumber pendapatan masyarakat. agenda seni dan pertunjukan, misalnya, tidak hanya melibatkan pelaku seni, tetapi turut menggerakkan usaha penjahit, penata rias, fotografer, pembuat video, hingga pedagang makanan.
Selain pengembangan usaha, peluang ekonomi juga dapat dibangun melalui pengelolaan lingkungan. Salah satunya melalui program Pilah Berkah yang mulai dijalankan Pemerintah Kota Metro pada 12 Oktober 2026, diawali di TK Negeri 2 Metro Utara.
Program tersebut mendorong pelajar memilah sampah plastik, kertas, dan logam agar dapat dimanfaatkan kembali. Meski demikian, agenda pemilahan perlu didukung sistem pengumpulan dan pengolahan yang jelas sehingga memberikan manfaat nyata.
Rafieq menekankan, keberhasilan program infrastruktur dan pengembangan tidak semestinya hanya dilihat dari jumlah agenda, peserta, maupun dokumentasi.
Ukuran utamanya adalah perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat, termasuk meningkatnya keterampilan, lahirnya usaha baru, dan terbukanya kesempatan ekonomi.
"Jangan menunggu menjadi pejabat untuk berkontribusi. Jangan menunggu modal besar untuk mulai berkarya. Saya memiliki harapan generasi muda tidak hanya mempertanyakan bantuan yang dapat diterima, tetapi juga mulai memikirkan manfaat yang bisa diberikan bagi masyarakat," tandasnya.