BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
Sebagian bangunan Sekolah Rakyat Terintegrasi (STR) 3 Provinsi Lampung di kawasan Kota Baru, Kabupaten Lampung Selatan, menggunakan papan Glassfiber Reinforced Cement (GRC) sebagai lapisan dinding bagian luar bangunan.
Penggunaan material tersebut sempat menjadi perhatian karena tampilan eksterior bangunan tidak menggunakan plester dan acian seperti konstruksi gedung pada umumnya.
Namun, pihak pelaksana proyek memastikan pemilihan GRC merupakan bagian dari metode konstruksi untuk mempercepat penyelesaian pembangunan daerah tanpa mengurangi kekuatan bangunan.
Berdasarkan pantauan di lokasi, bangunan yang telah menggunakan lapisan GRC tersebut merupakan gedung Sekolah Dasar (SD) dua lantai.
Informasi yang dihimpun juga menyebutkan metode serupa diterapkan pada bangunan Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Seorang sumber yang enggan disebutkan namanya menuturkan, papan GRC digunakan sebagai lapisan luar dinding yang berada di atas pasangan bata ringan.
"Di dalamnya tetap menggunakan bata ringan, kemudian dilapisi papan GRC. Jadi tidak menggunakan plester dan acian lagi," ujarnya saat dimintai keterangan, Sabtu (1/8/2026).
Menanggapi hal tersebut, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Arius F., menjelaskan penggunaan papan GRC memang dipilih sebagai salah satu strategi percepatan pembangunan daerah Sekolah Rakyat.
"Kalau GRC itu kita pakai untuk percepatan pekerjaan. Jadi kita bisa melaksanakan pekerjaan lebih cepat dan penyelesaiannya sesuai target. Kami usahakan material itu tetap bertahan lama," kata Arius.
Ia menekankan, papan GRC bukan menggantikan struktur utama bangunan. Struktur dinding tetap menggunakan bata ringan, sedangkan GRC berfungsi sebagai lapisan akhir pengganti plester dan acian.
Menurutnya, dari sisi kekuatan, sistem tersebut telah memenuhi kebutuhan konstruksi bangunan.
"Kalau ditanya permanennya seperti plester aci, memang ini berbeda. Tetapi kekuatannya sudah hampir sama dengan plester aci karena di belakangnya sudah ada bata ringannya," jelasnya.
Selain mempercepat proses konstruksi, metode tersebut juga dinilai lebih efisien di tengah tingginya kebutuhan material bangunan secara nasional.
Arius mengungkapkan, hingga saat ini progres pembangunan daerah Sekolah Rakyat Terintegrasi telah mencapai sekitar 94 persen. Saat ini pekerjaan difokuskan pada tahap penyelesaian atau finishing agar proyek dapat selesai sesuai jadwal kontrak.
"Sekarang progresnya sekitar 94 persen. Kami sedang mengejar pekerjaan finishing sehingga target sesuai kontrak bisa selesai pada 12 Agustus," ujarnya.
Ia menjelaskan, beberapa bangunan telah memasuki tahap siap digunakan, di antaranya gedung SD, asrama SD, dan asrama SMP. Sementara itu, beberapa bangunan lain seperti gedung SMP dan fasilitas pendukung masih dalam tahap penyelesaian.
"Yang masih dalam pengerjaan itu masih ada asrama dan kelas untuk anak SMP. Kalau yang sudah bisa digunakan adalah gedung SD, kemudian asrama SD dan asrama SMP," katanya.
Meski progres berjalan sesuai rencana, Arius mengakui terdapat tantangan selama pelaksanaan proyek, terutama terkait ketersediaan material bangunan dan tenaga kerja.
Menurutnya, tingginya pembangunan daerah infrastruktur di berbagai daerah membuat beberapa material mengalami kelangkaan sehingga proses pengadaan menjadi lebih sulit.
"Kendalanya lebih kepada ketersediaan material. Saat ini material bisa dibilang rebutan karena banyak proyek berjalan bersamaan. Begitu juga tenaga kerja, sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi kami," ujarnya.
pembangunan daerah Sekolah Rakyat yang ada di Provinsi Lampung dibiayai melalui anggaran Kementerian Pekerjaan Umum dengan nilai kontrak mencapai Rp670 miliar.
Proyek dikerjakan oleh konsorsium PT Brantas Abipraya dan PT Sumber Bangun Sentosa berdasarkan kontrak yang ditandatangani pada 15 Desember 2025 dengan masa pelaksanaan selama 240 hari kalender, yakni sejak 15 Desember 2025 hingga 11 Agustus 2026.