Wednesday, 09 September 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau, 6.671 Warga Lampung Terkena ISPA

09 September 2026 15:00 WIB
Oleh: Rina Wulandari
Dibaca: 1 kali
Bagikan:
Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau, 6.671 Warga Lampung Terkena ISPA
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Provinsi Lampung mencapai 6.671 kasus selama periode pemantauan tanggal 4 hingga 8 September 2026.

Peningkatan kasus tersebut menjadi salah satu perhatian Dinas Kesehatan Provinsi Lampung di tengah aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang berpotensi menyebabkan paparan abu vulkanik di sebagian wilayah.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, dr. Djohan Lius, menjelaskan data tersebut merupakan hasil pemantauan kesehatan yang dilakukan terhadap 15 kabupaten/kota di Provinsi Lampung.

Djohan menyampaikan hal tersebut saat memberikan keterangan mengenai perkembangan terkini aktivitas Gunung Anak Krakatau di Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Provinsi Lampung.

"Berdasarkan data pemantauan penyakit yang berpotensi Kejadian Luar Biasa (KLB), total kasus ISPA tercatat sebanyak 6.671 kasus," kata Djohan.

Menurutnya, peningkatan kasus harian tertinggi terjadi pada 7 September 2026 dengan jumlah mencapai 1.993 kasus. Selain ISPA, Dinas Kesehatan juga mencatat 236 kasus influenza-like illness (ILI) dan 58 kasus pneumonia selama periode pemantauan tersebut.

Sementara itu, dari pemantauan penyakit tidak menular (PTM) dan keluhan kesehatan lainnya, tercatat 250 kasus keluhan penyakit kulit seperti gatal-gatal dan kudis. Kemudian, terdapat 219 kasus Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), 194 kasus sakit mata, 182 kasus asma, serta 40 kasus heat stroke.

Djohan menjelaskan, Dinas Kesehatan Provinsi Lampung telah menerbitkan surat edaran mengenai kewaspadaan dan langkah antisipasi dampak erupsi Gunung Anak Krakatau terhadap kesehatan masyarakat.

Surat edaran tersebut menjadi pedoman bagi fasilitas kesehatan dan jajaran kesehatan di tingkat kabupaten/kota untuk meningkatkan kesiapsiagaan pelayanan apabila terjadi peningkatan dampak kesehatan akibat paparan abu vulkanik.

"Kami telah membagi 15 kabupaten/kota dalam lima regional sistem rujukan. Setiap fasilitas kesehatan di kabupaten/kota meningkatkan kesiapannya, mulai dari puskesmas pembantu, puskesmas, hingga rumah sakit umum daerah," jelasnya.

Untuk mendukung sistem tersebut, Dinas Kesehatan menetapkan lima rumah sakit umum daerah sebagai rumah sakit rujukan regional.

Kelima rumah sakit tersebut yakni Rumah Sakit A. Dadi Tjokrodipo di Bandar Lampung, Rumah Sakit Pringsewu, Rumah Sakit Alimuddin Umar di Lampung Barat, Rumah Sakit Umum Daerah Menggala di Tulang Bawang, serta Rumah Sakit Umum Ahmad Yani di Kota Metro.

Sementara itu, untuk rujukan tingkat tertinggi, Dinas Kesehatan menyiapkan tiga rumah sakit umum daerah milik Pemerintah Daerah Provinsi Lampung, yakni Rumah Sakit Bandar Negara Husada, Rumah Sakit Abdoel Moeloek, dan Rumah Sakit Alamsyah Ratu Perwiranegara.

Selain memperkuat pelayanan kesehatan, Dinas Kesehatan juga meningkatkan acara surveillance untuk memantau potensi gangguan kesehatan yang berkaitan dengan dampak erupsi Gunung Anak Krakatau.

"Pemantauan dilakukan terhadap sebagian penyakit yang berpotensi mengalami peningkatan, termasuk ISPA, iritasi mata, serta gangguan kesehatan lainnya," kata dia.

Djohan menjelaskan, penyakit yang dipantau tersebut dibagi menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama merupakan penyakit yang berpotensi menular, yakni ISPA, penyakit menyerupai influenza atau influenza-like illness (ILI), serta pneumonia.

Sedangkan kelompok kedua merupakan penyakit yang terdampak paparan abu vulkanik tetapi tidak berpotensi menular, seperti asma, penyakit kulit, sakit mata, dan PPOK.

"Kami terus memantau angka-angka kesakitan untuk penyakit-penyakit yang terdampak. Ini penting untuk mengetahui perkembangan kondisi kesehatan masyarakat di wilayah yang terdampak," ujarnya.

Di sisi lain, Wakil Pimpinan tertinggi Provinsi Lampung juga telah melakukan peninjauan langsung ke sebagian wilayah terdampak aktivitas Gunung Anak Krakatau. Peninjauan pertama dilakukan pada 6 September 2026 di Kabupaten Lampung Selatan, kemudian dilanjutkan pada 8 September 2026 di Kabupaten Pesawaran.

Dalam kunjungan tersebut, Wakil Gubernur Jihan Nurlela turut menyerahkan sebagian bantuan untuk mendukung pelayanan kesehatan di daerah, di antaranya masker, oksigen konsentrator, serta alat pelindung diri (APD) atau hazmat.

"Bantuan tersebut diharapkan dapat memperkuat kesiapan fasilitas kesehatan dan petugas dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang terdampak paparan abu vulkanik," sambungnya.

Wakil Gubernur juga memantau secara langsung pelayanan kesehatan di sebagian puskesmas.

Selain memastikan pelayanan berjalan, para petugas kesehatan juga diingatkan untuk menjaga kondisi fisik dan kesehatan mereka selama penanganan dampak erupsi.

"Petugas kesehatan juga harus memperhatikan kesehatan diri. Jangan sampai petugas kelelahan kemudian sakit dan akhirnya mengganggu pelayanan kepada masyarakat," kata Djohan.

Dinas Kesehatan Provinsi Lampung memastikan pemantauan kondisi kesehatan masyarakat akan terus dilakukan seiring perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Masyarakat juga diimbau tetap mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan instansi terkait serta menggunakan masker apabila berada di wilayah yang berpotensi terdampak abu vulkanik.

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari