BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
- Ancaman bencana hidrometeorologi mulai membayangi Lampung seiring masuknya masa peralihan menuju musim penghujan.
Hujan lebat berdurasi singkat, angin kencang, hingga potensi puting beliung menjadi beragam risiko yang perlu diantisipasi.
Ancaman tersebut diperkirakan meningkat menjelang puncak musim hujan pada Januari hingga Maret 2027.
Selain cuaca ekstrem, aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih berstatus Level III (Siaga) juga menjadi perhatian pemerintah daerah.
Kedua potensi ancaman tersebut mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung memperkuat koordinasi lintas instansi untuk memastikan kesiapsiagaan berjalan secara konkret.
Upaya tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi Mitigasi Aktivitas Gunung Anak Krakatau dan Bencana Hidrometeorologi di Ruang Pusdalops BPBD Lampung, Rabu, 4 November 2026.
Kepala Pelaksana BPBD Lampung Aswarodi menuturkan, koordinasi dilakukan untuk menyatukan langkah seluruh pemangku kepentingan dalam mengantisipasi potensi bencana.
Antisipasi tersebut mencakup ancaman akibat aktivitas vulkanik maupun perubahan kondisi cuaca.
Berdasarkan pemaparan BMKG, November 2026 masih menjadi periode pancaroba dengan karakteristik hujan lebat berdurasi singkat dan bersifat lokal.
Kondisi tersebut berpotensi disertai angin kencang, petir, hingga puting beliung akibat pertumbuhan awan cumulonimbus.
beragam wilayah dataran seperti Bandarlampung, Metro, Lampung Timur, Lampung Selatan, dan Lampung Tengah diminta meningkatkan kewaspadaan.
Wilayah tersebut berpotensi mengalami angin kencang hingga puting beliung selama masa peralihan musim.
"November ini masih masa pancaroba. Karena itu, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap hujan lebat yang dapat terjadi dalam waktu singkat, angin kencang, dan potensi puting beliung," ujar Aswarodi.
BMKG juga memetakan awal musim penghujan yang diprakirakan berlangsung tidak serentak di seluruh wilayah Lampung.
Tanggamus, Pesisir Barat, dan Lampung Barat telah memasuki musim penghujan sejak Oktober 2026.
Memasuki awal November, hujan mulai terjadi di Tulang Bawang, Tulang Bawang Barat, Mesuji, Way Kanan, Lampung Utara, dan Lampung Tengah.
Sementara itu, Bandarlampung, Metro, Pesawaran, Pringsewu, serta sebagian Lampung Timur dan Lampung Selatan diprakirakan memasuki musim penghujan pada akhir November hingga awal Desember 2026.
Puncak musim penghujan sendiri diprakirakan berlangsung pada Januari hingga Maret 2027.
Aswarodi menyebut, BPBD provinsi dan kabupaten/kota akan meninjau saluran air serta drainase, terutama di lokasi yang berpotensi mengalami genangan maupun banjir.
"Kami akan turun meninjau saluran-saluran air yang menjadi kewenangan provinsi dan nasional," jelasnya.
"Sementara untuk kewenangan kabupaten/kota, kami meminta Kalaksa BPBD masing-masing melakukan peninjauan agar seluruh saluran air dapat berfungsi dengan baik dan potensi banjir bisa diantisipasi," lanjutnya.
Pemprov Lampung juga akan mendorong penerbitan imbauan gubernur kepada bupati dan wali kota untuk menggerakkan aktivitas gotong royong membersihkan selokan serta drainase.
Masyarakat juga diminta memeriksa kondisi atap rumah dan menangani pohon tua yang berisiko tumbang.
Warga yang tinggal di sekitar sungai dan tebing juga diingatkan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana.
"Kesiapsiagaan harus dimulai dari lingkungan masing-masing," katanya.
"Pak Gubernur berpesan agar masyarakat tidak lengah dan menyiapkan tas siaga bencana di tempat yang mudah dijangkau," lanjutnya.
Dengan persiapan tersebut, masyarakat diharapkan dapat segera menyelamatkan diri ketika terjadi keadaan darurat.
Di sisi lain, aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III (Siaga).
Berdasarkan informasi PVMBG serta laporan BPBD Lampung Selatan dan relawan Pulau Sebesi, sebaran abu vulkanik saat ini belum mencapai Desa Tejang.
Aswarodi menuturkan, aktivitas erupsi yang terjadi merupakan bagian dari dinamika Gunung Anak Krakatau.
Meski demikian, potensi sebaran abu vulkanik tetap perlu diwaspadai.
BPBD Lampung Selatan juga mengusulkan pemasangan rambu peringatan agar masyarakat maupun wisatawan tidak memasuki kawasan berbahaya.
Usulan tersebut telah mendapat respons PVMBG untuk ditindaklanjuti.
Sementara itu, mantan Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Hargo Pancuran, Andi Suhardi, menjelaskan karakteristik perkembangan gunung api tersebut.
Menurutnya, Anak Krakatau merupakan gunung api muda yang masih mengalami proses pertumbuhan melalui fase konstruksi dan destruksi secara berulang.
Erupsi yang terjadi merupakan bagian dari proses pelepasan energi vulkanik, tetapi masyarakat tetap harus mematuhi rekomendasi keselamatan.
"Untuk saat ini, asap kawah yang teramati berwarna putih tipis dengan ketinggian sekitar 500 meter," jelasnya.
"Potensi bahaya sekunder yang perlu diperhatikan adalah sebaran abu vulkanik, yang dipengaruhi intensitas aktivitas erupsi dan arah angin," lanjutnya.
Masyarakat, nelayan, dan wisatawan diingatkan tidak mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius lima kilometer dari kawah selama status Siaga berlaku.
Ancaman cuaca ekstrem juga perlu menjadi perhatian masyarakat pesisir.
Prakirawan Stasiun Meteorologi Maritim Lampung Neneng Kusrini menuturkan, BMKG memantau prakiraan cuaca dan kondisi gelombang setiap hari di enam wilayah perairan Lampung.
Keenam wilayah tersebut meliputi Perairan Barat Lampung, Selat Sunda Selatan, serta Perairan Timur Lampung bagian utara dan selatan.
Pemantauan juga mencakup Teluk Lampung bagian utara dan selatan.
Menurutnya, karakteristik gelombang di setiap wilayah perairan berbeda.
Di Perairan Timur Lampung, gelombang setinggi satu meter saja dapat mengganggu aktivitas nelayan karena rata-rata ketinggian gelombangnya relatif rendah.
Sebaliknya, gelombang setinggi 1,5 hingga 2 meter lebih umum terjadi di Perairan Barat Lampung yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia.
"Untuk Perairan Timur Lampung, gelombang setinggi satu meter saja sudah dapat mengganggu aktivitas nelayan," jelasnya.
"Sementara di Perairan Barat Lampung, gelombang setinggi 1,5 hingga 2 meter merupakan kondisi yang lebih umum," lanjutnya.
Selain gelombang tinggi, potensi banjir rob juga menjadi perhatian pemerintah.
Risiko dampaknya dapat meningkat apabila terjadi bersamaan dengan musim penghujan, angin kencang, dan gangguan cuaca di sekitar perairan Sumatra bagian barat maupun selatan Jawa.
Melalui koordinasi lintas instansi tersebut, BPBD, BMKG, PVMBG, dan pemerintah kabupaten/kota diharapkan memperkuat langkah antisipasi sebelum bencana berkembang menjadi ancaman lebih besar.
Masyarakat juga diingatkan mengakses informasi resmi melalui BPBD, PVMBG, dan BMKG.
Warga diminta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau maupun prakiraan bencana lainnya. (*)