Tuesday, 20 October 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

BPJN Lampung Terapkan Slurry Seal di Jalan Teuku Umar, Penanganan 3 KM Ditargetkan Rampung Desember

20 October 2026 17:00 WIB
Oleh: Rina Wulandari
Dibaca: 3 kali
Bagikan:
BPJN Lampung Terapkan Slurry Seal di Jalan Teuku Umar, Penanganan 3 KM Ditargetkan Rampung Desember
Foto: Radar Lampung

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

- Ruas Jalan Teuku Umar, Bandar Lampung, mulai mendapat penanganan menggunakan metode slurry seal atau bubur aspal.

Berbeda dengan pengaspalan konvensional, metode yang untuk pertama kalinya diterapkan di Lampung ini ditujukan untuk mencegah kerusakan jalan semakin parah.

Penanganan tersebut terutama menyasar permukaan aspal yang mulai aus dan mengelupas.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 2.1 BPJN Lampung, Fiddin Ichwanul Alhaz, menyebutkan penanganan tersebut ditargetkan mencakup sekitar 2,5 hingga 3 kilometer.

Pekerjaan itu berada di sepanjang ruas Simpang Tanjung Karang–Tanjung Karang, khususnya Jalan Teuku Umar dan Jalan ZA Pagar Alam.

“Slurry seal ini merupakan salah satu jenis penanganan jalan yang bersifat preventif atau pencegahan,” kata Fiddin, Selasa, 20 Oktober 2026.

“Tujuannya mencegah atau memperbaiki kondisi jalan sebelum kerusakannya menjadi lebih parah,” lanjutnya.

Dia menjelaskan, slurry seal menggunakan campuran aspal emulsi dan agregat berukuran halus yang diaplikasikan sebagai lapisan tipis pada permukaan jalan.

Metode ini berbeda dengan perkerasan aspal konvensional yang lebih berorientasi pada penanganan struktural.

Slurry seal lebih difokuskan untuk memulihkan kondisi permukaan aspal yang mulai mengalami raveling, yakni pengelupasan atau terlepasnya butiran agregat akibat keausan.

Kondisi tersebut ditandai dengan permukaan jalan yang mulai kasar dan butiran batu yang terlihat keluar.

Melalui pelapisan kembali, permukaan jalan diharapkan menjadi lebih rata sekaligus terlindungi dari kerusakan lanjutan.

“Metode ini bukan semata-mata untuk membuat jalan lebih tahan lama, tetapi memang dikhususkan untuk penanganan preventif,” jelasnya.

“Terutama pada aspal yang permukaannya sudah aus dan mulai terkelupas,” lanjutnya.

Fiddin menargetkan pekerjaan di Jalan Teuku Umar dapat diselesaikan paling lambat awal Desember 2026.

Namun, pelaksanaannya dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi lalu lintas di kawasan perkotaan.

Menurutnya, pekerjaan tidak dapat dilakukan sekaligus pada seluruh ruas karena harus menjaga kelancaran arus kendaraan.

Selain itu, metode slurry seal membutuhkan paparan sinar matahari untuk mendukung proses pengeringan sehingga pengerjaan dilakukan pada siang hari.

“Karena kita bekerja di tengah kota, lalu lintas harus diatur dengan baik,” ujarnya.

“Kita tidak bisa mengerjakan satu ruas secara penuh sekaligus, sehingga pelaksanaannya dilakukan bertahap,” lanjutnya.

Dia menambahkan keterangan, panjang penanganan 2,5 hingga 3 kilometer tersebut bukan berarti seluruh permukaan jalan pada kedua sisi akan dilapisi.

Pekerjaan dilakukan pada titik-titik yang membutuhkan penanganan berdasarkan kondisi di lapangan.

Jika kerusakan ditemukan pada kedua sisi jalan, pelapisan akan dilakukan di kedua sisi.

Sebaliknya, apabila hanya satu sisi yang memerlukan penanganan, pekerjaan disesuaikan dengan kebutuhan tersebut.

Dengan pola itu, volume akhir pekerjaan masih dapat berubah mengikuti hasil evaluasi lapangan.

Selain Jalan Teuku Umar, ruas Jalan Imam Bonjol juga berpeluang mendapat penanganan serupa.

Fiddin menyebut kondisi permukaan jalan di kawasan tersebut akan dikaji lebih lanjut bersama tim Perencanaan dan Pengawasan Jalan Nasional (P2JN).

Menurutnya, kemungkinan perluasan penanganan bergantung pada hasil evaluasi kebutuhan serta ketersediaan volume pekerjaan dalam paket yang berjalan.

“Jalan Imam Bonjol mungkin menjadi salah satu opsi,” katanya.

“Kita akan diskusikan dengan tim P2JN. Jika volumenya masih tersedia dan mencukupi, penanganan bisa dialihkan ke sana,” lanjutnya.

Fiddin menerangkan, pekerjaan slurry seal di Jalan Teuku Umar merupakan bagian dari paket penanganan jalan dengan skema long segment.

Paket tersebut mencakup 13 ruas jalan dalam kota dengan total anggaran sekitar Rp11 miliar.

Dengan demikian, penanganan di Jalan Teuku Umar hanya menjadi salah satu bagian dari program pemeliharaan beberapa ruas jalan tersebut.

Dia juga menekankan bahwa metode slurry seal baru pertama kali diterapkan di Provinsi Lampung.

Selama ini, penanganan jalan lebih banyak dilakukan melalui penambalan lubang, perbaikan, dan pengembalian kondisi jalan.

Penerapan metode preventif ini menjadi salah satu upaya menjaga kondisi permukaan jalan sebelum kerusakan berkembang lebih jauh.

Meski demikian, efektivitas penanganannya tetap bergantung pada kesesuaian metode dengan tingkat kerusakan serta kebutuhan masing-masing ruas jalan. (*)

 

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari