Tuesday, 03 November 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

BMKG Minta Warga Lampung Waspada Puting Beliung dan Hujan Es Selama Pancaroba

03 November 2026 16:00 WIB
Oleh: Rina Wulandari
Dibaca: 4 kali
Bagikan:
BMKG Minta Warga Lampung Waspada Puting Beliung dan Hujan Es Selama Pancaroba
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat di Provinsi Lampung untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem selama masa peralihan musim atau pancaroba.

sebagian fenomena yang perlu diantisipasi di antaranya hujan lebat, angin kencang, puting beliung hingga hujan es.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II Lampung, Indra Purna menjelaskan, kondisi atmosfer di Lampung saat ini masih belum stabil.

Meskipun hujan mulai mengguyur sebagian daerah dalam beberapa hari terakhir, sebagian besar wilayah belum sepenuhnya memasuki musim hujan.

Menurutnya, saat ini baru Kabupaten Lampung Barat dan Pesisir Barat yang lebih dahulu mengalami musim hujan. Sementara daerah lainnya diperkirakan menyusul secara bertahap mulai pertengahan November 2026 hingga awal Januari 2027.

"Secara umum Lampung masih berada dalam masa pancaroba. Namun, Lampung Barat dan Pesisir Barat sudah lebih dahulu memasuki musim hujan," kata Indra, Selasa (3/11/2026).

Ia menjelaskan, peralihan musim tersebut dipengaruhi pergerakan angin monsun Asia yang membawa massa udara dari arah barat.

Akibatnya, wilayah Lampung bagian barat lebih dahulu mendapatkan peningkatan curah hujan sebelum kondisi serupa meluas ke daerah lain.

Indra menyebutkan, awal musim hujan di setiap kabupaten/kota tidak berlangsung serentak. Lampung Selatan dan Lampung Timur diperkirakan menjadi wilayah yang paling akhir mengalami peralihan musim, yakni dalam rentang waktu hingga awal Januari 2027.

"Musim hujan diperkirakan mulai masuk pada pertengahan November hingga awal Januari. Wilayah Lampung Selatan dan Lampung Timur termasuk yang paling akhir," jelasnya.

Selama masa pancaroba, perubahan cuaca dapat berlangsung dalam waktu singkat dan tidak merata. Hujan yang turun di satu kawasan belum tentu terjadi di wilayah sekitarnya. Bahkan, kondisi cerah dan panas masih dapat berlangsung meskipun daerah lain sudah diguyur hujan.

Di tengah kondisi tersebut, BMKG meminta masyarakat memperhatikan potensi pertumbuhan awan cumulonimbus (CB), khususnya pada sore hari. Awan jenis ini memiliki perkembangan vertikal yang kuat dan dapat tumbuh dengan cepat ketika kondisi atmosfer mendukung.

Pertumbuhan awan cumulonimbus berpotensi memicu hujan dengan intensitas tinggi yang disertai petir dan angin kencang. Dalam kondisi tertentu, fenomena tersebut juga dapat berkembang menjadi puting beliung maupun hujan es.

Indra menerangkan, hujan es terbentuk melalui proses pembekuan butiran air di dalam awan konvektif yang memiliki arus udara vertikal kuat. Butiran es kemudian dapat jatuh ke permukaan bumi ketika ukurannya tidak lagi mampu ditahan oleh arus udara di dalam awan.

"Pada masa pancaroba, masyarakat perlu mewaspadai pertumbuhan awan cumulonimbus karena dapat berkembang cepat dan memicu angin kencang, puting beliung hingga hujan es," ujarnya.

Ia mengingatkan, masyarakat tidak boleh menganggap hujan yang turun sebagai kondisi cuaca biasa, terutama ketika disertai perubahan angin secara mendadak, petir, dan awan gelap yang semakin tebal. Kewaspadaan diperlukan untuk mengantisipasi dampak cuaca ekstrem yang berpotensi terjadi selama masa peralihan musim.

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari