Saturday, 15 August 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

BMKG Catat Gelombang Tsunami 1,61 Meter Terjang Pesisir Reo Manggarai Usai Gempa NTT

15 August 2026 20:00 WIB
Oleh: Ahmad Fauzi
Dibaca: 3 kali
Bagikan:
BMKG Catat Gelombang Tsunami 1,61 Meter Terjang Pesisir Reo Manggarai Usai Gempa NTT
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

7,7 yang mengguncang wilayah utara Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026), tidak hanya menimbulkan kerusakan dan kepanikan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gelombang tsunami setinggi 1,61 meter menerjang wilayah Reo, Kabupaten Manggarai.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan, berdasarkan pengamatan jaringan tide gauge atau alat pemantau muka air laut, tsunami juga terdeteksi di sebagian wilayah pesisir lainnya.

Selain Reo, gelombang setinggi 0,94 meter tercatat di Maurole, Ende, sedangkan Bulukumba dan Sape, Bima, mengalami gelombang lebih dari 0,5 meter.

“Yang pertama yang mencapai 1,6 meter di Kota Manggarai Timur dan 1,61 meter di Reo, Manggarai, NTT. Selebihnya yang tertinggi juga 0,94 meter di Maurole, Ende,” kata Faisal dalam konferensi pers, Sabtu (15/8/2026).

Data tersebut diperoleh setelah hasil simulasi tsunami BMKG diverifikasi menggunakan pengamatan muka laut di berbagai wilayah Indonesia.

BMKG bergerak cepat setelah gempa utama terjadi. Peringatan dini tsunami dikeluarkan hanya sekitar 2 menit 16 detik setelah gempa, kemudian diperbarui sekitar 10 menit berikutnya setelah parameter gempa diperoleh secara lebih presisi.

Peringatan tersebut akhirnya dinyatakan berakhir pada pukul 07.30 WIB setelah pemantauan menunjukkan kondisi muka laut kembali aman.

Meski ancaman tsunami telah berakhir, BMKG masih menaruh perhatian serius terhadap aktivitas gempa susulan.

Tren aktivitas tersebut dinilai belum menunjukkan peluruhan yang signifikan sehingga masyarakat di wilayah terdampak masih diminta meningkatkan kewaspadaan.

BMKG memperkirakan proses peluruhan alami aktivitas gempa dapat berlangsung sekitar dua hingga tiga pekan.

Faisal menjelaskan pemantauan terhadap aktivitas sesar terus dilakukan secara real-time untuk melihat perkembangan kegempaan.

Masyarakat diminta tetap mengikuti informasi resmi BMKG dan tidak mudah terpengaruh kabar yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, terutama selama aktivitas gempa susulan masih berlangsung.

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari