BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
Timur mulai berlangsung. Namun, kondisi tersebut belum mampu menekan harga beras di pasaran yang masih relatif tinggi.
Salah satu penyebabnya adalah hasil panen petani yang tidak maksimal akibat serangan hama tikus.
Kondisi tersebut dirasakan petani di Desa Braja Asri, Kecamatan Way Jepara. Seorang petani setempat, Amprih, mengaku hasil panen padi miliknya mengalami penurunan drastis akibat serangan hama tikus.
Amprih menjelaskan, lahan padi seluas seperempat hektare yang biasanya mampu menghasilkan hingga sekitar 12 kuintal gabah, kali ini hanya menghasilkan sekitar 90 kilogram.
"Kalau normal bisa sampai 12 kuintal. Sekarang hanya dapat sekitar 90 kilogram karena banyak diserang tikus," kata Amprih. Sabtu (15/8/2026).
Menurutnya, harga gabah saat ini memang tergolong tinggi, yakni sekitar Rp7.300 per kilogram. Namun, tingginya harga tersebut tidak banyak membantu petani karena produksi gabah yang diperoleh sangat sedikit.
Petani, lanjut Amprih, sebenarnya telah berupaya melakukan berbagai cara untuk membasmi hama tikus. Namun, upaya tersebut belum berhasil mengendalikan serangan hama yang terus merusak tanaman padi.
Dia juga menyayangkan minimnya pendampingan dari dinas terkait dalam menangani serangan hama tikus.
Menurutnya, petani membutuhkan pendampingan dan solusi yang lebih efektif agar produksi padi tidak terus mengalami penurunan.
Penurunan produksi gabah tersebut turut berdampak terhadap harga beras di tingkat konsumen.
Saat ini, harga beras di Lampung Timur berada di kisaran Rp15 ribu hingga Rp17 ribu per kilogram. Padahal, saat memasuki musim panen, harga beras biasanya berada di kisaran Rp10 ribu hingga Rp12 ribu per kilogram.
Pedagang beras di Lampung Timur, Nurohman menjelaskan, tingginya harga beras tidak terlepas dari mahalnya harga gabah yang dibeli dari petani.
Saat ini, ia harus membeli gabah dengan harga sekitar Rp7 ribu hingga Rp8 ribu per kilogram.
"Gabah sekarang sudah Rp7 ribu sampai Rp8 ribu per kilogram. Itu belum biaya penjemuran dan operasional penggilingan," ujar Nurohman.
Dengan kondisi tersebut, Nurohman mengaku harus menjual beras rata-rata Rp15.500 per kilogram.
Menurutnya, jika beras dijual di bawah Rp15 ribu per kilogram, pedagang berpotensi mengalami kerugian karena biaya produksi dan harga gabah cukup tinggi.
Ia memperkirakan harga beras masih berpotensi mengalami kenaikan. Selain produksi panen yang menurun akibat hama tikus, musim kemarau juga membuat sebagian petani tidak kembali menanam padi setelah panen.
"Setelah panen ini banyak petani tidak menanam padi lagi karena kemarau. Jadi kemungkinan harga beras masih akan tinggi," katanya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa datangnya musim panen belum otomatis membuat harga beras turun.
Rendahnya hasil produksi akibat serangan hama serta terbatasnya aktivitas tanam pada musim kemarau menjadi faktor yang dapat memengaruhi pasokan dan harga beras di tingkat konsumen.