BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
Gunung Anak Krakatau telah berdampak terhadap 32.415 warga di Kabupaten Lampung Selatan.
Abu vulkanik dilaporkan menyebar ke 146 desa dengan kondisi paparan mulai dari sedang hingga tebal di beberapa wilayah.
Meski jumlah warga terdampak cukup besar, Dinas Kesehatan Lampung Selatan menyebut hingga kini belum menemukan laporan warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan abu.
Dari 28 puskesmas yang ada, sebanyak 16 puskesmas telah menyampaikan laporan kondisi wilayah masing-masing dan belum ditemukan kasus ISPA, iritasi mata maupun gangguan kulit yang berkaitan dengan erupsi.
Kepala Dinas Kesehatan Lampung Selatan, Devi Arminanto menuturkan, pemantauan kesehatan masyarakat terus dilakukan, khususnya di wilayah dengan paparan abu cukup tebal.
Petugas juga memperkuat pelayanan melalui Poskesdes dan Pustu, sekaligus membagikan masker serta memberikan edukasi mengenai perlindungan diri saat masyarakat beraktivitas di tengah kondisi berdebu.
Perhatian Dinkes kini juga tertuju pada kelompok rentan dan ketersediaan logistik kesehatan.
"Berdasarkan data Puskesmas Tanjung Agung, terdapat 247 balita, 217 Lansia, 14 ibu hamil atau menyusui dan tujuh penyandang disabilitas yang turut terdampak," kata Devi, dilansir Liputan6.
Sementara dari 16 puskesmas pelapor, stok masker bedah tercatat 3.361 boks, sedangkan kebutuhan tambahan mencapai 8.780 boks.
Kondisi serupa terlihat pada persediaan tetes mata steril. Saat ini stok yang tersedia sebanyak 562 botol, sementara kebutuhan tambahan yang diajukan mencapai 5.005 botol.
Selain itu, Dinkes masih memiliki 290 boks masker N95, obat ISPA dan Ventolin sebanyak 850 boks/100, 2.532 kasa steril serta 440 botol cairan NaCl. Penyaluran logistik diprioritaskan untuk wilayah dengan paparan abu yang lebih berat.
Devi menuturkan keterbatasan jarak pandang akibat abu menjadi salah satu kendala dalam penanganan di lapangan.
Di sisi lain, kebutuhan air bersih juga mulai muncul di beberapa permukiman terdampak.
Dinkes Lampung Selatan menghimbau masyarakat tetap waspada, menggunakan pelindung pernapasan saat berada di luar rumah, serta mengikuti informasi resmi pemerintah selama Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga.