BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
masih terus dipantau Pemerintah Daerah Provinsi Lampung melalui Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Provinsi Lampung bersama BMKG, PVMBG dan sebagian instansi terkait.
Hingga Selasa (8/9/2026), Gunung Anak Krakatau masih berada pada Status Level III atau Siaga. Masyarakat, wisatawan, dan pengunjung diminta meningkatkan kewaspadaan serta tidak mendekati kawasan gunung api tersebut dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
Wakil Orang nomor satu di Lampung Jihan Nurlela menyebutkan, berdasarkan hasil pemantauan, Gunung Anak Krakatau kembali mengalami empat kali erupsi.
Erupsi pertama terjadi pada pukul 05.08 WIB dengan durasi sekitar 15 detik dan dinyatakan selesai. Erupsi kembali terjadi pada pukul 05.34 WIB selama sekitar 10 detik.
Selanjutnya, erupsi ketiga terjadi pada pukul 07.49 WIB dengan durasi sekitar 19 detik. Kemudian pada pukul 11.34 WIB kembali terjadi erupsi dengan durasi sekitar 17 detik.
"Erupsi terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum sekitar 50 milimeter," kata Jihan saat menyampaikan perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau di Kantor BPBD Lampung, Selasa (8/9/2026).
Jihan menjelaskan, kondisi angin saat ini bergerak menuju arah barat laut dan utara dengan kecepatan rendah hingga sedang. Kondisi tersebut membuat arah sebaran abu vulkanik dapat berubah mengikuti pergerakan angin.
Mengantisipasi dampak abu vulkanik, Pemerintah Daerah Provinsi Lampung telah melakukan sebagian langkah penanganan di wilayah yang terdampak.
Salah satunya dengan mendistribusikan masker kepada masyarakat di sebagian lokasi yang terpapar abu vulkanik, khususnya wilayah yang berada relatif dekat dengan kawasan Gunung Anak Krakatau.
Pemprov Lampung juga melakukan penyiraman di sebagian wilayah untuk membantu mengurangi paparan dan dampak abu vulkanik yang berada di lingkungan masyarakat.
"Hari ini kami telah mendistribusikan masker di beberapa lokasi wilayah terdampak paparan abu vulkanik. Kemudian kami juga telah melakukan penyiraman di sebagian wilayah untuk mengurangi paparan abu vulkanik," ujar Jihan.
Menurutnya, penanganan tersebut dilakukan bersama pemerintah kabupaten/kota di wilayah yang terdampak paparan abu vulkanik. Di sektor kesehatan, Pemprov Lampung juga telah membentuk tim krisis kesehatan untuk memantau dampak erupsi terhadap masyarakat.
Jihan menyebutkan, berdasarkan pemantauan langsung ke sebagian fasilitas kesehatan, mulai terlihat adanya tren peningkatan kunjungan masyarakat dengan keluhan atau kasus infeksi saluran pernapasan atas (ISPA).
Meski demikian, kondisi tersebut masih dalam kendali fasilitas pelayanan kesehatan, terutama puskesmas.
"Terdapat tren peningkatan kunjungan pasien dengan kasus infeksi saluran pernapasan atas, tetapi masih dalam kendali fasilitas kesehatan kita yang ada di puskesmas," jelasnya.
Ketersediaan alat pelindung diri, termasuk masker, di fasilitas kesehatan juga masih dinyatakan mencukupi berdasarkan laporan yang diterima hingga Selasa.
Pemprov Lampung juga melakukan pemeriksaan laboratorium terhadap abu vulkanik untuk mengetahui tingkat paparannya.
Jihan menyebut, Bandara Radin Inten II Lampung telah melakukan pengujian terkait paparan abu vulkanik dan hasil pemeriksaan tersebut dinyatakan negatif.
Untuk memastikan masyarakat memperoleh informasi terkini, BPBD Provinsi Lampung melakukan pemantauan sekaligus diseminasi informasi secara berkala.
"Khusus BPBD telah melakukan pemantauan dan diseminasi informasi tiap enam jam sekali," kata Jihan.
Sementara itu, BPBD kabupaten/kota diminta meningkatkan kesiapsiagaan di wilayah masing-masing. Koordinasi lintas sektor juga terus diperkuat, terutama pada bidang kesehatan, transportasi, lingkungan hidup dan keselamatan masyarakat.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan respons terhadap perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dapat dilakukan secara cepat sesuai kondisi di lapangan.
Jihan kembali menghimbau masyarakat Lampung untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau.
Masyarakat juga diminta menggunakan masker ketika berada atau beraktivitas di luar ruangan, terutama di wilayah yang terdampak paparan abu vulkanik.
Selain itu, masyarakat diimbau membatasi aktivitas fisik yang tidak mendesak, serta menutup pintu, jendela dan ventilasi rumah selama masih terjadi paparan abu vulkanik.
Masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan maupun keluhan kesehatan lainnya diminta segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan.
"Kami menghimbau masyarakat Lampung secara umum untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau, menggunakan masker saat berada atau beraktivitas di luar ruangan, serta membatasi aktivitas fisik yang tidak mendesak," tegas Jihan.
Ia juga meminta masyarakat tidak mudah mempercayai informasi yang tidak jelas sumbernya. Masyarakat diminta mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui kanal informasi resmi pemerintah dan instansi berwenang.
"Pemerintah Daerah Provinsi Lampung bersama seluruh instansi terkait akan terus memantau perkembangan Gunung Anak Krakatau dan melakukan langkah-langkah penanganan sesuai dengan kondisi terkini di lapangan," pungkasnya.