BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
BANDAR LAMPUNG - Akselerasi transformasi digital Pemerintah Kota (Pemkot) Bandar Lampung terancam serangan siber.
Berdasarkan Rekapitulasi Insiden Siber Semester I Tahun 2026, Tim Tanggap Insiden Siber (TTIS) atau BandarLampung-CSIRT mencatat setidaknya ada 13 laporan insiden dan ancaman kerentanan yang menyasar aset digital milik Pemkot.
Ancaman tersebut didominasi oleh kasus kebocoran data (information disclosure dan data exposure) sebesar 38 persen, serta kesalahan konfigurasi sistem (security misconfiguration) sebesar 15 persen.
Tidak hanya itu, tim teknis juga menemukan celah vulnerable software, sensitive data exposure, hingga maraknya aksi SEO spam berupa penyisipan tautan judi online pada domain milik pemerintah.
Merespons ancaman tersebut, Pemkot Bandar Lampung bergerak cepat dengan menggelar Sosialisasi Penyelenggaraan Penguatan Kesadaran dan Kesiapan Tanggap Insiden Siber di Ruang Rapat Inspektorat Kota Bandar Lampung.
acara dibuka secara resmi oleh Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesra, Wilson Faisol, didampingi Pelaksana Harian (Plh.) Kepala Dinas Kominfo Kota Bandar Lampung, Rizky Agung Ariesantho.
Plh. Kadis Kominfo Bandar Lampung, Rizky Agung Ariesantho, memastikan bahwa digitalisasi pelayanan publik harus diimbangi dengan benteng pertahanan informasi yang solid.
"Transformasi digital telah menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik, sekaligus meningkatkan risiko terhadap keamanan informasi," ujar Rizky.
Rizky menjelaskan, sosialisasi ini ditujukan untuk mengoptimalkan peran BandarLampung-CSIRT sebagai garda terdepan koordinasi keamanan digital.
Fungsi tersebut mencakup alur pelaporan, verifikasi, penanganan teknis, pemulihan sistem, hingga sosialisasi Standar Operasional Prosedur (SOP) Penanganan Aduan Insiden Siber bagi seluruh instansi di lingkungan Pemkot.
"acara ini sekaligus menjadi langkah nyata kita bersama dalam meningkatkan literasi digital dan membangun budaya sadar keamanan informasi di jajaran Pemkot Bandar Lampung," tegasnya.
Untuk memperkuat pemahaman teknis jajaran ASN, agenda ini juga menghadirkan narasumber dari Relawan TIK, Fathurahman Kurniawan Ihsan, yang membekali peserta mengenai pentingnya literasi digital aparatur guna menekan risiko ancaman siber dari celah kelalaian manusia (human error). (*)