BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
METRO, Sebanyak 56 sekolah di Kota Metro mendapat bantuan revitalisasi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) pada tahun 2026.
Program dengan total anggaran Rp34 miliar ini ditargetkan rampung pada November hingga paling lambat pertengahan Desember mendatang.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menuturkan, pelaksanaan revitalisasi saat ini masih berlangsung. beragam sekolah penerima bantuan tengah melakukan perbaikan sarana dan prasarana, mulai dari ruang kelas hingga perpustakaan.
"Untuk anggaran bantuan revitalisasi si SDN 5 Metro Timur itu Rp1,84 miliar sedangkan di SMPN 9 Rp1,1 miliar. Pembangunannya meliputi rehab ruang kelas, perpustakaan dan lainya," kata dia usai tinjauan.
Dua sekolah tersebut, yakni SD Negeri 5 Metro Timur dan SMP Negeri 9 Metro, masing-masing telah mencapai progres infrastruktur dan pengembangan sekitar 50 persen.
Menurut Abdul Mu’ti, program revitalisasi tidak hanya menyasar sekolah di Kota Metro, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pemerataan kualitas sarana pendidikan di berbagai daerah di Indonesia.
Di Provinsi Lampung, tercatat sebanyak 1.737 sekolah menjadi penerima bantuan revitalisasi pada 2026 dengan total anggaran mencapai Rp1,3 triliun.
Pelaksanaan program ini juga diperkirakan menyerap sekitar 25 ribu tenaga kerja.
"Kemudian serapan tenaga kerja dari pelaksanaan program ini untuk di Provinsi Lampung tahun 2026 ini sekitar 25 ribu orang," terangnya.
Program revitalisasi tersebut digelar secara swakelola. Selain memperbaiki kondisi fisik bangunan, bantuan ini diharapkan mendukung proses belajar mengajar melalui penyediaan lingkungan sekolah yang lebih layak.
Secara nasional, jumlah penerima bantuan revitalisasi pada tahun ini mencapai 71.744 sekolah. Pemerintah juga berencana menambah 6.000 sekolah sebagai penerima bantuan, dengan kemungkinan jumlah tersebut masih bertambah.
Abdul Mu’ti menjelaskan, pemerintah memprioritaskan tiga kelompok penerima, yakni sekolah yang terdampak bencana alam, satuan pendidikan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta sekolah dengan kondisi kerusakan berat.
Sekolah terdampak bencana yang menjadi perhatian terutama berada di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
"Prioritas ini untuk memastikan bantuan pemerintah menjangkau daerah yang paling membutuhkan sekaligus mempercepat pemerataan layanan pendidikan di seluruh Indonesia," kata dia.
Sementara itu, sekolah yang hanya memerlukan perbaikan ringan dapat memanfaatkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Penggunaan dana tersebut, kata Abdul Mu’ti, dapat menjadi alternatif untuk menjaga kondisi bangunan sekolah tanpa harus menunggu bantuan revitalisasi.
"Untuk sekolah yang hanya membutuhkan perbaikan ringan bisa menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Dana BOS sudah bisa digunakan unuk perbaikan ringan, jadi untuk kepala sekolah jangan takut untuk menggunakannya," jelasnya.
Di luar perbaikan bangunan, Kemendikdasmen juga mendorong penguatan fasilitas pembelajaran berbasis digital. Pada 2025, pemerintah menyalurkan bantuan digitalisasi pendidikan ke Provinsi Lampung senilai Rp329 miliar berupa perangkat Interactive Flat Panel (IFP) dan laptop.
Sedangkan, bantuan yang disalurkan di Kota Metro meliputi 193 unit IFP dan 193 unit laptop dengan nilai anggaran Rp6,4 miliar.
"Pada tahun ini semua sekolah di Indonesia akan mendapatkan tambahan bantuan tiga unit IFP dan pada akhir Desember sudah bisa sampai ke seluruh sekolah," imbuhnya.
Pihaknya mengharapkan, peningkatan fasilitas pendidikan melalui revitalisasi dan digitalisasi dapat diikuti dengan perawatan yang berkelanjutan. Menurut dia, kualitas sarana sekolah tidak hanya bergantung pada infrastruktur dan pengembangan, tetapi juga pada kepedulian warga sekolah dalam menjaga fasilitas yang tersedia.
"Saya juga mengharapkan baik itu kepala sekolah, tenaga pendidikan dan masyarkaat untuk bersama-sama merawat, menjaga kebersihan sekolah yang sudah dibangun ini," pungkasnya.