BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
Kupastuntas.co, Tanggamus — Sepuluh hari pencarian di tengah luasnya perairan Lampung belum berhasil mengungkap keberadaan lima jurnalis dan tiga kru speedboat Arupadhatu 1 yang hilang kontak saat melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Setelah operasi SAR resmi berakhir tanpa menemukan kapal maupun delapan orang tersebut, Polres Tanggamus kini memperluas pencarian informasi dengan menggandeng nelayan pesisir.
Langkah itu dilakukan bukan tanpa alasan. Nelayan merupakan kelompok masyarakat yang sehari-hari berada di laut dan beraktivitas di berbagai kawasan perairan, termasuk wilayah yang tidak selalu dapat dijangkau dalam operasi penyisiran.
Karena itu, Polres Tanggamus melalui Satuan Polisi Perairan dan Udara (Satpolairud) bersama jajaran polsek pesisir menyampaikan informasi mengenai hilangnya Arupadhatu 1 kepada para nelayan di wilayah pesisir Tanggamus, Senin (21/9/2026).
Sosialisasi dilakukan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pekon Tegineneng, Kecamatan Limau, sekitar pukul 11.30 WIB. aktivitas kemudian dilanjutkan di Gudang Ikan H. Jaman, Pekon Tengor, Kecamatan Cukuh Balak, sekitar pukul 14.00 WIB.
Kasi Humas Polres Tanggamus, AKP Sofyansyah menuturkan, keterlibatan nelayan diharapkan dapat memperluas jangkauan informasi setelah operasi pencarian resmi berakhir.
"Nelayan merupakan masyarakat yang sehari-hari beraktivitas di laut. Karena itu, kami menyampaikan perkembangan kejadian ini agar apabila selama melaut atau berada di pesisir menemukan sesuatu yang diduga berkaitan, dapat segera diinformasikan kepada kepolisian," ujar Sofyansyah.
Menurut Sofyansyah, polisi tidak hanya meminta laporan apabila nelayan menemukan speedboat. Barang, benda, maupun petunjuk lain yang berada di laut atau kawasan pantai juga diminta segera dilaporkan apabila diduga berkaitan dengan kejadian tersebut.
"Jadi bukan hanya barang, informasi atau petunjuk apa pun yang dianggap berkaitan dengan kejadian ini kami harapkan dapat segera disampaikan. Kami akan menindaklanjutinya sesuai prosedur," katanya.
Lima jurnalis dan tiga kru Arupadhatu 1 dilaporkan hilang kontak pada Senin, 7 September 2026. Mereka berada di dalam speedboat ketika melakukan perjalanan untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Kelima jurnalis tersebut yakni M. Bagus Khoirunnas dari LKBN ANTARA, Arie/Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firdaus Wajidi dari Anadolu Agency, serta Donal Husni yang merupakan jurnalis lepas.
Sedangkan tiga kru kapal yakni Warta (55), selaku nakhoda atau kapten; Surakman/Sukarman (60), sebagai anak buah kapal (ABK); dan Heriyanto (49), sebagai pemandu atau guide.
Sejak laporan kehilangan diterima, tim SAR gabungan melakukan pencarian dengan wilayah penyisiran yang terus diperluas.
Pencarian mencakup sebagian kawasan perairan Lampung, termasuk Teluk Semangka dan wilayah pesisir Tanggamus.
Pada 14 September 2026, pencarian telah memasuki hari ketujuh. Tim SAR menyisir sebagian sektor perairan Lampung, termasuk Pulau Tabuan dan Teluk Semangka.
Operasi kemudian diperpanjang selama tiga hari. Pada 15 September, area pencarian diperluas dari Tanjung Belimbing hingga sekitar Pulau Sebesi.
Sehari berikutnya, 16 September, pencarian memasuki hari kesembilan. Wilayah pencarian dibagi menjadi delapan sektor dengan cakupan sekitar 3.439 mil laut persegi. Salah satu sektor penyisiran berada di kawasan perairan Tanggamus.
Penyisiran kembali dilakukan pada 17 September yang menjadi hari ke-10 sekaligus hari terakhir masa perpanjangan operasi.
Tim SAR menyisir wilayah Teluk Semangka hingga kawasan Gunung Anak Krakatau, termasuk Pulau Legundi, Pulau Sebesi dan Pulau Sebuku.
Namun, pencarian selama 10 hari tersebut belum menemukan keberadaan speedboat Arupadhatu 1 maupun delapan orang yang berada di dalamnya.
Operasi SAR kemudian dinyatakan berakhir pada 17 September 2026.
Petunjuk Sekecil Apa Pun Diminta Dilaporkan.
Kini, setelah operasi SAR berakhir, polisi memperluas sumber informasi kepada masyarakat yang memiliki aktivitas langsung di laut.
Di Kecamatan Limau, aktivitas dipimpin Kasat Polair Polres Tanggamus AKP Dedi Yanto, S.Pd., bersama Kasi Humas AKP Sofyansyah, S.H., Kapolsek Limau Iptu Fridy Romadhana Panca R., S.Sos., Bhabinkamtibmas Brigpol Viky dan personel Satpolairud Brigpol Azis.
Sementara di wilayah hukum Polsek Cukuhbalak, sosialisasi dipimpin Kapolsek Cukuhbalak Ipda Kiki Nur Alfian, S.H., M.M., bersama AKP Dedi Yanto, AKP Sofyansyah, Brigpol Azis dan Bhabinkamtibmas Bripka Rifki.
Polres Tanggamus meminta masyarakat pesisir tidak mengabaikan setiap temuan yang berpotensi berkaitan dengan hilangnya Arupadhatu 1.
Benda yang ditemukan di laut, barang yang terdampar di pantai, maupun informasi dari sesama nelayan dapat menjadi bahan bagi kepolisian untuk dilakukan pengecekan.
Dengan langkah tersebut, pencarian informasi mengenai delapan orang yang hilang tidak sepenuhnya berhenti meskipun operasi SAR telah ditutup.
Kini, laut masih menyimpan tanda tanya.
Sepuluh hari penyisiran belum memberikan jawaban mengenai keberadaan Arupadhatu 1 dan delapan orang di dalamnya. Polisi pun mengharapkan, dari aktivitas nelayan di sepanjang pesisir Tanggamus, muncul satu petunjuk yang dapat membuka kembali jejak mereka. (*)