BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
tahun atau tahun baru masehi peredaran narkoba makin masif. Polda Lampung pun memperketat pengawasan di pintu-pintu masuk Provinsi Lampung.
Direktur Reserse Narkoba Polda Lampung, Kombes Pol Dodi Suryadin menyampaikan, barang bukti narkoba dengan jumlah besar yang berhasil digagalkan peredarannya belakangan ini dianggap merupakan persiapan untuk memenuhi permintaan saat perayaan tahun baru.
"Jadi ini menjelang tahun baru dan akhir tahun, ya pasti untuk stok mungkin kan gitu. Untuk stok peredaran narkoba di wilayah Jawa lah dan sekitarnya, Jakarta dan sekitarnya," ungkap Dodi saat diwawancarai di Mapolda Lampung, Selasa (5/10/2026).
Menurutnya, lokasi Provinsi Lampung sebagai jalur perlintasan antara pulau Sumatera dan pulau Jawa dimungkinkan menjadi lokasi penyimpanan narkoba untuk kemudian diedarkan ke Jakarta dan seterusnya.
"Bisa jadi (sebagai tempat penyimpanan narkoba). Ya karena apa? Kita ini di Bakauheni ini kan selalu patroli, selalu melakukan pemeriksaan. Mereka kan pasti melihat dulu situasi kondisi, mau nyebrang kapan kan begitu, jam berapa. Nah kalau memang ketat di sana berarti mereka nginep dulu kan gitu," kata Dodi.
Sebab kata Dodi, praktik seperti itu sudah pernah terungkap pada Operasi Antik Krakatau beberapa waktu lalu.
"Sebelumnya kita pernah rilis kan, nah itu nginep dulu kan barang itu di Lampung. Ya karena salah satu tersangka supirnya adalah orang Lampung. Jadi barang itu nginep dulu di Lampung. Beberapa minggu, satu minggu lah kalau enggak salah, baru mereka kalau situasi sudah aman jalan lagi," terangnya.
Selain itu Dodi memastikan para pelaku selalu berpindah-pindah dalam memilih lokasi sebagai tempat penyimpanan narkoba.
"Ya pasti berubah-ubah lokasinya. Dan mereka pun tidak sendiri, walaupun kita tangkap tersangka satu, tetapi mereka pasti tidak sendiri. Ada teman-teman atau rekan-rekan lain yang memantau agenda kita, ya yang mengadakan patroli di Bakauheni," katanya.
Ia menilai sindikat peredaran narkoba sangatlah terorganisir. Ada yang bertugas mengarahkan, menerima, hingga mengedarkan setelah sampai Jakarta.
Ketika pelaku yang tertangkap diintrogasi polisi, diketahui bahwa barang narkoba tersebut awalnya berasal dari negara Malaysia, kemudian masuk ke daerah Aceh maupun Jambi atau Riau.
"Pengirimannya mungkin bisa 20 kilo, 30 kilo, 40 kilo per trip. Ya, biasanya mereka menggunakan kurir tekong, orang yang membawa perahu. Dari Malaysia ketemu di tengah-tengah laut, di Selat Malaka itu, jalur Selat Malaka. Kemudian datang lagi tekong dari Indonesia mengambil barang tersebut. Nanti setelah di darat, ada lagi penjemputnya. Terputus itu antara tekong sama yang darat itu. Pengendalinya cuma satu. Ya, biasanya bandar-bandarnya itu memang orang Indonesia, orang Aceh misalkan, tapi mereka ada pengendalian di Malaysia.
agenda ini menurutnya tidak akan putus, pengiriman terus dilakukan setiap minggu atau bulan. Bahkan dalam setiap kali pengiriman narkoba tidak cukup hanya satu kendaraan.
"Mereka mengirim tidak cuma satu mobil, satu kendaraan, pasti mereka mengirim kendaraan berikutnya, yang kedua, ketiga, keempat. Nah, mungkin salah satu itu ada yang lolos, gitu kan. Perhitungan mereka bahwa kalau dua ketangkap, satu lolos, itu masih ada untung banyak," bebernya.
"Kami beserta anggota dan Polres jajaran sangat intens melakukan patroli, melakukan pemeriksaan di tempat-tempat penyeberangan, terutama di Bakauheni," pungkasnya.