BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
Amerika yang terus menanjak dan harga kebutuhan hidup yang makin menekan, senyum mulai kembali terlihat di wajah petani singkong di Lampung.
Setelah bertahun-tahun hidup dalam ketidakpastian harga, ubi kayu yang dulu kerap dianggap tanaman “kelas dua” kini justru menjadi penyelamat dapur keluarga petani.
Beberapa bulan lalu, gelombang protes sempat mengguncang kantor DPRD hingga Jajaran Pemprov Lampung. Petani datang dari berbagai daerah membawa keluhan yang sama: harga singkong jatuh di bawah Rp1.000 per kilogram dan tak lagi mampu menutup biaya produksi.
Banyak petani kala itu mengaku hanya bisa pasrah melihat hasil panen dihargai lebih murah dibanding ongkos tanam.
Namun keadaan berbalik cepat. Kini harga singkong di beberapa pabrik tapioka Lampung melonjak hingga Rp2.000 sampai Rp2.050 per kilogram.
Angka tersebut menjadi yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir dan jauh melampaui patokan harga sebelumnya sekitar Rp1.300 per kilogram yang sempat ditetapkan pemerintah daerah.
Kenaikan harga itu perlahan menghidupkan kembali semangat para petani. Di beberapa desa sentra singkong, lahan-lahan yang sempat dibiarkan kosong mulai kembali ditanami.
Para petani menyebut kondisi ini seperti “mandi dolar”, karena nilai jual singkong ikut terdongkrak di tengah gejolak ekonomi global dan penguatan mata uang Amerika Serikat.
Ketua Perkumpulan Petani Ubi Kayu Indonesia (PPUKI), Dasrul, menyebut kelangkaan bahan baku menjadi penyebab utama harga terus merangkak naik.
Banyak petani sebelumnya beralih ke padi, jagung, dan tebu karena ketiga komoditas tersebut juga sedang mengalami tren harga yang baik. Akibatnya, pasokan singkong ke pabrik berkurang drastis.
Meski begitu, masih ada petani yang tetap bertahan menanam ubi kayu. Mereka kini mulai merasakan hasil dari kesabaran panjang yang selama ini diuji harga murah.
Cuaca yang mendukung dan pasar yang kembali membaik membuat singkong kembali dilirik sebagai sumber penghasilan yang menjanjikan di tengah ketidakpastian ekonomi.
Anggota Komisi II DPRD Lampung, Mikdar Ilyas, menilai lonjakan harga ini menjadi titik balik penting bagi petani singkong di Lampung.
Menurutnya, selama bertahun-tahun petani hidup dalam tekanan karena harga hanya berkisar Rp300 hingga Rp600 per kilogram. Kini, petani akhirnya bisa menikmati hasil panen yang layak dan mulai merasakan kesejahteraan dari tanah yang mereka garap sendiri.
Di balik euforia harga tinggi, harapan baru mulai tumbuh di desa-desa penghasil singkong. Petani menginginkan kondisi ini tidak hanya menjadi “musim manis” sesaat.
Mereka ingin singkong benar-benar mendapat perlindungan regulasi dan tata niaga yang adil, agar komoditas yang selama ini menopang ekonomi rakyat kecil itu tidak lagi jatuh saat panen raya tiba.
Bagi banyak keluarga petani di Lampung, singkong hari ini bukan sekadar tanaman, melainkan simbol harapan yang kembali hidup.