BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
rumah Sayuti (55) di Kampung Masjid, Dusun 1, Pekon Kalimiring, Kecamatan Kotaagung Barat, Kabupaten Tanggamus, Senin (10/8/2026) sore, berhasil dipadamkan dalam waktu sekitar satu jam.
Namun, bagi Sayuti dan putrinya, Rina, musibah itu belum berakhir.
Rumah yang selama ini menjadi tempat mereka berlindung dan menjalani kehidupan sehari-hari kini tinggal puing.
Bagi Rina yang masih duduk di kelas 6B SDN 1 Kalimiring, kebakaran itu juga berarti kehilangan tempat untuk belajar, beristirahat dan menyimpan perlengkapan sekolahnya.
Kebakaran terjadi sekitar pukul 17.10 WIB. Api tiba-tiba membesar dan melahap bagian rumah yang sebagian besar berbahan kayu.
Berdasarkan laporan awal Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Tanggamus, api diduga muncul dari bagian rumah yang terdapat kulkas. Dugaan sementara, kebakaran dipicu korsleting listrik.
Meski demikian, penyebab pasti kebakaran masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Warga yang mengetahui kejadian tersebut langsung berdatangan. Sebagian berupaya menyelamatkan barang-barang yang masih bisa dikeluarkan dari rumah, sementara warga lainnya membantu proses pemadaman dan menghubungi petugas Damkarmat.
Dua unit mobil pemadam kemudian dikerahkan dari Pos Kota Agung dan Pos Kantor Damkarmat Tanggamus.
Kepala Damkarmat Tanggamus, Firdaus Tarunajaya menyampaikan, petugas membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk tiba di lokasi setelah menerima laporan.
"Penanganan dilakukan oleh personel Pos Kota Agung dan Pos Kantor, dengan didampingi Kasi Damkar. Waktu respons petugas menuju lokasi tercatat sekitar 15 menit dengan waktu pemadaman sekitar satu jam," kata Firdaus.
Api akhirnya berhasil dikendalikan sebelum merambat ke rumah warga lainnya. Tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam peristiwa tersebut. Namun, kerugian material diperkirakan mencapai Rp80 juta.
Bagi Sayuti, angka tersebut tidak hanya menggambarkan nilai barang dan bangunan yang hilang. Sebab, rumah tersebut merupakan tempat keluarganya menjalani kehidupan selama ini.
Kini, ia harus memikirkan kembali tempat tinggal keluarganya sekaligus memastikan putrinya tetap dapat bersekolah.
“Yang paling saya pikirkan sekarang anak saya. Dia masih sekolah. Rumah ini tempat kami tinggal dan tempat dia belajar. Sekarang semuanya sudah terbakar,” kata Sayuti.
Rina masih berada di usia sekolah. Di tengah kehilangan tempat tinggal dan perlengkapan sehari-hari, ia tetap harus menjalani aktivitas belajar dan mempersiapkan diri menghadapi pendidikan berikutnya.
Kebakaran itu juga membuat keluarga Sayuti harus memulai kembali kehidupan dari kondisi yang jauh berbeda.
Mereka membutuhkan tempat untuk berteduh, pakaian, perlengkapan sehari-hari hingga kebutuhan sekolah Rina. Sementara rumah yang selama ini menjadi tempat mereka pulang sudah tidak dapat digunakan.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa kebakaran dapat terjadi sewaktu-waktu. Dugaan awal korsleting listrik juga menunjukkan pentingnya memastikan kondisi instalasi listrik serta penggunaan peralatan elektronik di rumah tetap aman.
Kecepatan respons warga dan petugas pemadam juga menjadi faktor penting untuk mencegah api meluas, terutama di kawasan permukiman.
Bagi keluarga Sayuti, setelah api benar-benar padam, perjuangan justru baru dimulai. Mereka harus mencari tempat tinggal sementara, menata kembali kebutuhan sehari-hari dan perlahan membangun kembali kehidupan yang hilang dalam hitungan menit.
Rumah mereka mungkin telah menjadi abu. Tetapi satu hal yang masih harus dijaga: Rina tetap bisa bersekolah dan mengejar cita-citanya.
Sebab, bagi seorang ayah seperti Sayuti, membangun kembali rumah bukan sekadar mendirikan bangunan. Lebih dari itu, ia sedang berusaha menghadirkan kembali tempat aman bagi anaknya untuk pulang.