Thursday, 20 August 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

Krisis Air Mengintai Lampung, BBWS Sebut Cadangan Bendungan Hanya Bertahan 1,5 Bulan

20 August 2026 12:00 WIB
Oleh: Rina Wulandari
Dibaca: 2 kali
Bagikan:
Krisis Air Mengintai Lampung, BBWS Sebut Cadangan Bendungan Hanya Bertahan 1,5 Bulan
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

Kondisi kekeringan yang melanda beragam wilayah di Provinsi Lampung membuat cadangan air di beragam bendungan utama semakin menipis.

Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji-Sekampung menyebut kondisi paling kritis saat ini terjadi di Bendungan Marga Tiga dan Bendungan Jabung, sementara ketersediaan air di Bendungan Batu Tegi juga telah berada pada batas muka air minimum.

Kepala BBWS Mesuji-Sekampung, Elroy Koyari, mengungkapkan kondisi tersebut terjadi karena kebutuhan air yang cukup tinggi, sementara pengisian bendungan tidak sebanding dengan jumlah air yang digunakan.

Menurutnya, bendungan memiliki batas muka air minimum yang harus dijaga untuk memastikan operasional dan keamanan bangunan bendungan.

"Kita sebenarnya punya sumber-sumber air yang menjadi andalan kita di bendungan. Namun persoalannya, penggunanya cukup banyak dan bendungannya tidak terisi. Jadi ada muka air minimum yang tidak boleh lebih rendah dari itu," kata Elroy saat dimintai keterangan, Kamis (20/8/2026).

Ia menjelaskan, jika muka air bendungan turun melewati batas minimum, kondisi tersebut dapat membahayakan konstruksi bendungan. Karena itu, BBWS tidak bisa sembarangan membuka aliran air dari bendungan yang sudah berada di batas minimum.

"Kalau bendungan lebih rendah dari muka air minimum, itu bisa collapse. Jadi kami akan jaga supaya muka air itu ada di muka air minimum untuk operasional bendungan," ujarnya.

Elroy menyebut cadangan air yang tersedia di beragam waduk saat ini sudah sangat tipis. Bendungan Marga Tiga dan Jabung menjadi dua lokasi yang mendapat perhatian khusus karena air yang tersedia sudah banyak terpakai, sementara kebutuhan air masyarakat, terutama untuk irigasi, masih tinggi.

"Cadangan-cadangan air di waduk-waduk ini sudah sangat tipis. Yang sekarang lagi kritis itu di Bendungan Marga Tiga sama Bendungan Jabung. Air yang di situ sudah terpakai habis dan sulit untuk digunakan, sementara permintaannya justru tinggi," katanya.

Kondisi tersebut turut berdampak terhadap daerah irigasi, khususnya wilayah yang tidak memiliki sistem irigasi teknis dan masih mengandalkan air hujan maupun aliran sungai.

Elroy mengungkapkan wilayah seperti itu menjadi salah satu daerah yang paling sulit dilayani ketika musim kemarau karena debit sungai ikut mengalami penurunan.

"Yang agak sulit kita layani adalah daerah-daerah irigasi, khususnya irigasi yang berada di luar sistem irigasi, seperti daerah irigasi tadah hujan. Ini tidak ada sistemnya, mengandalkan air sungai, sementara air sungainya sekarang sedang sangat surut," jelasnya.

BBWS Mesuji-Sekampung, kata Elroy, sebenarnya telah melakukan perhitungan neraca air dan menyampaikan peringatan kepada masyarakat agar menyesuaikan pola tanam dengan ketersediaan air.

Berdasarkan neraca air tersebut, aktivitas tanam seharusnya mulai dihentikan pada sekitar akhir Juli untuk menghindari tanaman mengalami kekurangan air di tengah masa pertumbuhan.

"Kita sudah berikan berdasarkan neraca air, sudah kita sampaikan hampir dua bulan sebelumnya bahwa aktivitas tanam ini mesti berakhir kira-kira sekitar akhir Juli. Jangan nanam dulu karena kita akan kesulitan," ungkapnya.

Ia mengungkapkan imbauan tersebut diberikan agar petani tidak mengalami kerugian akibat tanaman yang sudah ditanam namun kemudian tidak mendapatkan pasokan air yang cukup.

"Jangan sampai berhenti di tengah jalan karena pasokan air untuk irigasi itu berkurang. Nah, ini yang menjadi kendala kita sekarang," tambahnya.

Elroy menjelaskan kondisi ketersediaan air Lampung juga dipengaruhi sistem bendungan yang saling terhubung atau menggunakan pola cascade (bertingkat).

Air dari Bendungan Batu Tegi dialirkan menuju Bendungan Sekampung, kemudian berlanjut ke Marga Tiga hingga Jabung. Namun saat ini Bendungan Batu Tegi sudah mencapai muka air minimum sehingga pelepasan air tambahan harus dibatasi.

"Karena bendungan ini cascade atau bertingkat. Dari Batu Tegi dilepas ke Sekampung, kemudian turun ke Marga Tiga, baru ke Jabung. Dari Batu Tegi sekarang sudah muka air minimum, tidak bisa lagi dibuka," jelas Elroy.

Menurutnya, apabila air dari Batu Tegi terus dilepas dalam jumlah besar, dikhawatirkan ketersediaan air akan semakin menurun dan mengganggu keamanan bendungan.

"Kalau dialirkan lagi dia kering, bagian ini bisa collapse. Ini yang harus kita jaga," katanya.

Dengan kondisi tersebut, sumber air yang masih menjadi andalan untuk memenuhi kebutuhan irigasi saat ini adalah Bendungan Sekampung. Namun, cadangan air tersebut juga diperkirakan hanya mampu bertahan dalam waktu terbatas.

"Yang jadi andalan kita tinggal yang ada dari Sekampung. Itu pun hanya bisa bertahan kira-kira satu setengah bulan ke depan," ungkapnya.

BBWS mengharapkan curah hujan dalam beberapa waktu ke depan meningkat sehingga dapat membantu mengisi kembali waduk-waduk yang saat ini mengalami penurunan volume air.

"Kita mengharapkan curah hujan cukup tinggi beberapa waktu ini, bisa mengisi waduk-waduk kita supaya bisa kita bantu operasikan untuk kebutuhan irigasi," harap Elroy.

Untuk mengantisipasi keterbatasan pasokan air irigasi, BBWS Mesuji-Sekampung saat ini juga mencari sumber air alternatif yang masih tersedia, termasuk memanfaatkan debit beragam sungai.

Namun pemanfaatan air sungai tetap harus dihitung melalui neraca air agar pengambilan air untuk kebutuhan irigasi tidak menimbulkan kekeringan di wilayah hilir.

"Untuk irigasi memang kita masih mencari potensi yang tersedia di sungai. Tetapi air yang kita ambil dari sungai ini pun masih kita atur neraca airnya supaya jangan merugikan konsumen yang di hilir," kata Elroy.

Ia menggarisbawahi pengambilan air dalam jumlah besar dari sungai justru berpotensi menimbulkan persoalan baru apabila tidak dikendalikan.

"Kalau kita ambil dalam jumlah besar, maka di hilir akan kekeringan," ujarnya.

Selain sungai, BBWS juga menyiapkan pemanfaatan sumur bor melalui program Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) sebagai salah satu alternatif untuk membantu memenuhi kebutuhan air pertanian.

"Alternatif lain kita pakai sumur bor JIAT (Jaringan Irigasi Air Tanah). Ini yang baru mau kita jalankan, mungkin lewat Inpres. Ini sedang kita siapkan untuk digelar tahun ini," jelasnya.

Dalam jangka panjang, Elroy menilai Lampung membutuhkan lebih banyak sumber tampungan air skala kecil untuk menghadapi kondisi kekeringan.

Menurutnya, banyak potensi embung yang belum dikembangkan secara optimal. Embung-embung tersebut dapat menjadi cadangan air ketika musim kemarau dan tekanan terhadap bendungan utama meningkat.

"Yang mungkin jadi perhatian kita ke depan, menurut kami, banyak potensi-potensi embung yang belum dikembangkan. Ini yang harusnya kita coba bikin waduk-waduk kecil yang bisa digunakan di waktu-waktu kering seperti ini," katanya.

Selain infrastruktur dan pengembangan embung, ia menilai keberadaan rawa di Lampung juga perlu dipertahankan. Rawa dinilai memiliki fungsi penting sebagai tempat penyimpanan air alami yang dapat membantu menjaga ketersediaan air saat musim kemarau.

Elroy menyayangkan masih adanya rawa yang berubah fungsi, padahal kawasan tersebut dapat menjadi bagian dari cadangan air Lampung.

"Sementara Lampung ini kondisinya flat atau datar, sampai sekarang potensi itu belum digunakan. Yang terjadi rawa jadi alih fungsi. Seharusnya rawa itulah cadangan air kita yang bisa kita pakai di saat kering seperti ini," ujarnya.

Ia mengharapkan pengelolaan sumber daya air ke depan tidak hanya berfokus pada infrastruktur dan pengembangan bendungan besar, tetapi juga menjaga sumber-sumber air alami yang sudah ada.

"Ini yang banyak berubah. Kita mengharapkan mungkin ke depan rawa-rawa yang ada di Lampung ini bisa dipertahankan," pungkas Elroy. (*)

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari