Tuesday, 20 October 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

Kisah Inspiratif Erwinsyah di Metro, Sulap Sampah Jadi Cuan

20 October 2026 12:00 WIB
Oleh: Dewi Kartika
Dibaca: 2 kali
Bagikan:
Kisah Inspiratif Erwinsyah di Metro, Sulap Sampah Jadi Cuan
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

Kupastuntas.co, Metro – Tak semua yang dibuang kehilangan nilai, begitulah yang ada di benak Erwinsyah. Baginya, sampah bukan lagi sekadar barang sisa yang dibuang dan dilupakan. Di tangannya, botol plastik, sisa makanan, dan berbagai limbah rumah tangga menjelma menjadi sumber penghasilan, pupuk, pakan ternak, hingga jalan menuju kemandirian ekonomi keluarga.

Di usia 52 tahun, warga Karangrejo, Metro Utara, itu membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan kesejahteraan. Melalui Bank Sampah Unit (BSU) Bintang Mandiri di RT 07, RW 02, ia menekuni pengelolaan sampah dengan satu prinsip sederhana, sesuatu yang dianggap tidak berguna masih bisa menghasilkan nilai jika dikelola dengan benar.

BSU Bintang Mandiri dibentuk pada 4 Februari 2019. Namun, aktivitas pengelolaan sampah mulai berjalan lebih intensif pada 2020. Sejak itu, Erwinsyah bersama aktivitas bank sampahnya terus mengembangkan pengolahan sampah organik dan anorganik, termasuk budidaya maggot, pembuatan kompos, serta pupuk organik cair.

Perjalanannya tidak langsung dimulai dengan keyakinan penuh. Erwinsyah mengaku sempat ragu apakah sampah benar-benar dapat memberikan manfaat ekonomi. Keraguan itu perlahan terjawab setelah ia terjun langsung memilah dan mengolah sampah, kemudian merasakan hasilnya.

“Awalnya saya masih ragu. Ternyata setelah saya menggeluti sampah dan memilahnya, ada hasilnya. Saya bisa mendapatkan tambahan penghasilan dari pengelolaan sampah, termasuk dari maggot. Itu yang membuat saya semakin semangat untuk terus mengelola sampah organik maupun anorganik,” ujar Erwinsyah kepada Kupastuntas.co, Selasa (20/10/2026). 

Kini, manfaat yang ia rasakan tidak hanya berupa uang tunai. Dari pengolahan sampah, ia membangun pola ekonomi sirkular berskala rumah tangga. Sampah organik diolah menjadi bahan pendukung budidaya maggot dan kompos, sementara hasil pengelolaannya dimanfaatkan untuk menunjang kebutuhan sehari-hari, termasuk peternakan ayam.

Erwinsyah mengungkapkan, budidaya maggot yang dikelolanya dapat menghasilkan hingga 120 kilogram per bulan. Ia juga mulai merasakan kemandirian dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga. Pakan ayam dapat dipenuhi secara mandiri, sayuran tidak lagi harus dibeli, dan kebutuhan telur telah tersedia dari hasil pemeliharaan ayamnya sendiri.

“Alhamdulillah, saya sudah mandiri pakan. Sayuran juga sudah tidak beli, dan kebutuhan telur sudah ada sendiri. Jadi, dari mengelola sampah ini, kami bisa membangun ekonomi sirkular dalam skala rumah tangga,” tuturnya.

Dari aktivitas pemilahan dan pengolahan sampah tersebut, Erwinsyah memperkirakan memperoleh tambahan penghasilan sekitar Rp1,5 juta per bulan. Nilai itu menjadi penopang ekonomi keluarga sekaligus bukti nyata bahwa pengelolaan sampah dapat memberikan manfaat finansial apabila dilakukan secara konsisten.

Namun, aktivitas Erwinsyah tidak berhenti di bank sampah. Dalam kesehariannya, ia juga bekerja sebagai petugas kebersihan lingkungan atau Sokli di bawah pembinaan Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Tiga kali dalam sepekan, ia mendatangi rumah-rumah warga untuk mengambil sampah. Dari aktivitas tersebut, ia juga memperoleh pemasukan melalui iuran kebersihan warga.

Dua peran itu saling melengkapi. Sampah yang dikumpulkan dari rumah-rumah warga menjadi bagian dari rantai pengelolaan yang berpotensi menghasilkan nilai tambah. Sampah tidak sekadar dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain, tetapi dipilah agar material yang masih bernilai dapat dimanfaatkan kembali, sedangkan sampah organik dapat diolah sesuai kebutuhan.

Perubahan lain mulai dirasakan ketika Pemerintah Kota Metro menggulirkan program Pilah Berkah atau Sampah Sampah, Sekolah Berkah, yang digagas Wakil Wali Kota Metro, Dr. M. Rafieq Adi Pradana. Program tersebut mendorong lingkungan sekolah memilah sampah agar material yang masih bernilai ekonomi dapat disalurkan dan dimanfaatkan melalui bank sampah.

Bagi Erwinsyah, program itu membuka peluang yang lebih pasti bagi pengelola bank sampah. Sebelum program berjalan, setoran dari nasabah perorangan cenderung tidak menentu. Kini, keterlibatan sekolah memberikan tambahan pasokan sampah terpilah yang dapat dikelola secara berkelanjutan.

“Dari program Pilah Berkah yang digagas Bapak Wakil Wali Kota Metro, Alhamdulillah penghasilan saya mulai bertambah. Sebelumnya, nasabah perorangan tidak tentu menyetorkan sampah. Sejak ada program ini, kami mendapatkan sampah yang lebih pasti dari sekolah. Program ini sangat membantu para pengelola bank sampah di Metro,” katanya.

Menurut Erwinsyah, manfaat program tersebut dapat dirasakan oleh banyak pihak. Sekolah memiliki lingkungan yang lebih bersih, warga sekolah belajar mengelola sampah, dan pengelola bank sampah memperoleh bahan baku yang dapat diolah menjadi sumber pendapatan. Dengan demikian, pemilahan sampah tidak hanya menjadi kebiasaan menjaga kebersihan, tetapi juga membuka ruang aktivitas ekonomi di tingkat masyarakat.

Meski demikian, ia mengharapkan program tersebut tidak berhenti pada aktivitas di lingkungan sekolah. Sosialisasi mengenai pemilahan sampah dan pemanfaatannya sebagai sumber penghasilan perlu diperluas secara masif agar semakin banyak keluarga dan masyarakat memahami manfaatnya. Dukungan pemerintah, menurutnya, penting untuk menjaga keberlanjutan program sekaligus memperkuat peran bank sampah di setiap wilayah.

Kisah Erwinsyah menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Dari sebuah bank sampah di sudut Karangrejo, ia merintis kebiasaan memilah, mengolah, dan memanfaatkan kembali barang yang sebelumnya dianggap tidak bernilai. Hasilnya bukan hanya tambahan penghasilan, tetapi juga kemandirian pangan rumah tangga dan kontribusi nyata terhadap kebersihan lingkungan.

Di tengah persoalan sampah perkotaan yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak, pengalaman Erwinsyah menghadirkan pelajaran sederhana bahwa sampah bukan semata-mata beban lingkungan. Jika dipilah dan dikelola dengan tepat, sampah dapat menjadi sumber daya yang memberi manfaat bagi keluarga, masyarakat, dan lingkungan.

Bagi Erwinsyah, berkah itu tidak datang dengan sendirinya. Ia tumbuh dari ketekunan memungut, memilah, dan mengolah sesuatu yang kerap diabaikan orang lain. Dari sampah yang terkelola, ia menemukan peluang untuk hidup lebih mandiri, sekaligus membuktikan bahwa menjaga lingkungan bisa menjadi bagian dari ikhtiar menyejahterakan keluarga.

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari