BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
pekerjaan rumah bagi banyak daerah, ada pemandangan berbeda di Jalan Perkutut RW 09, Kelurahan Banjarsari, Metro Utara, Kota Metro, Lampung, pada Jumat (17/7/2026).
Tumpukan sampah yang selama ini dianggap tak bernilai justru disulap menjadi berbagai produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi tinggi oleh Pesantren Bank Sampah (PBS) Metro.
Bukan sekadar memamerkan hasil kerajinan, PBS memperkenalkan sebuah gagasan besar bahwa sampah tidak harus berakhir di tempat pembuangan akhir.
Melalui tangan-tangan kreatif para penggeraknya, limbah rumah tangga berubah menjadi tas, wadah tisu, pulpen, kursi dan meja ecobrick, keset kain, bantal hias, bunga plastik, angsa plastik, meja dari ban bekas, taplak meja, paving block plastik, budidaya maggot hingga pupuk kompos.
Deretan produk tersebut menjadi bukti bahwa ekonomi sirkular bukan lagi sekadar konsep di atas kertas. Di Pesantren Bank Sampah Metro, gagasan itu telah diwujudkan menjadi karya nyata yang mampu memberikan manfaat ekonomi sekaligus mengurangi beban lingkungan.
Owner Pesantren Bank Sampah, Slamet Riadi, menyebutkan pengenalan produk tersebut merupakan bagian dari komitmen lembaganya dalam menjawab tantangan pengelolaan sampah melalui pemberdayaan masyarakat.
Menurutnya, peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan tata kelola organisasi menjadi fondasi agar produk yang dihasilkan mampu bersaing di pasar.
"Hari ini kami meluncurkan produk baru hasil pengolahan Pesantren Bank Sampah sebagai wujud konsistensi gerakan pemberdayaan bahwa sudah saatnya pengelolaan produk Bank Sampah ditata lebih baik, baik secara administrasi maupun produktivitas dan kualitas," kata Slamet kepada awak media.
Ia memastikan, masyarakat perlu diyakinkan bahwa sampah memiliki nilai ekonomi yang nyata apabila dikelola dengan benar. Hampir seluruh jenis sampah, kecuali limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), dapat didaur ulang menjadi produk yang layak jual dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Menurut Slamet, setiap produk yang berhasil dipasarkan bukan hanya menghasilkan pendapatan bagi para penggerak, tetapi juga mengurangi volume sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Karangrejo. Dengan demikian, persoalan lingkungan dan ekonomi dapat dijawab secara bersamaan.
"Kami mengharapkan kolaborasi antara pemerintah daerah, sektor perbankan, dunia usaha dan masyarakat terus diperkuat. Sinergi tersebut dapat menjadi kunci dalam membangun budaya peduli lingkungan yang berdampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat," ujarnya.
Di balik berbagai produk yang dipamerkan, terdapat proses panjang yang tidak sederhana. Setiap limbah harus dipilah, dibersihkan, dicuci, dijemur hingga siap diolah menjadi bahan baku kerajinan yang berkualitas.
Ketua Divisi UMKM Pesantren Bank Sampah, Siti Fadila, menuturkan lebih lanjut bahwa dirinya bersama para penggerak fokus memanfaatkan tutup botol air minum kemasan dan berbagai jenis plastik lainnya menjadi produk kerajinan yang menarik.
"Semua kami proses terlebih dahulu melalui pembersihan, dicuci kemudian dijemur, lalu didaur ulang menjadi kerajinan berbahan sampah yang kreatif, cantik, menarik dan memiliki nilai jual," beber Siti Fadila.
Ia mengungkapkan, dalam sehari para pengrajin mampu menghasilkan tiga hingga empat produk seperti tas, wadah tisu dan berbagai kerajinan lainnya.
Ke depan, produk-produk tersebut akan dipasarkan lebih luas sembari terus meningkatkan kualitas agar mampu bersaing di pasar lokal maupun nasional.
"Di tengah meningkatnya produksi sampah setiap hari, aktivitas di Pesantren Bank Sampah Metro ini bisa menjadi pengingat bahwa solusi tidak selalu lahir dari teknologi mahal. Terkadang, perubahan besar justru dimulai dari keberanian melihat sampah bukan sebagai akhir dari sebuah benda, melainkan awal dari lahirnya kreativitas, peluang usaha, dan harapan baru bagi kesejahteraan masyarakat," tandasnya.