Monday, 14 September 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

Kebun Kopi di Tebaliokh Lampung Barat Terbakar, 1.500 Batang Tanaman Rusak

14 September 2026 16:00 WIB
Oleh: Ahmad Fauzi
Dibaca: 5 kali
Bagikan:
Kebun Kopi di Tebaliokh Lampung Barat Terbakar, 1.500 Batang Tanaman Rusak
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

Kebakaran melanda areal perkebunan kopi di Pemangku 4, Pekon Tebaliokh, Kecamatan Batu Brak, Kabupaten Lampung Barat, Minggu (13/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB. Peristiwa tersebut menyebabkan sedikitnya 1.500 batang tanaman kopi terdampak dan sebagian di antaranya hangus terbakar.

Areal perkebunan yang terbakar merupakan lahan milik Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) Waykuol yang selama ini dikelola oleh petani setempat. Tanaman kopi di lahan tersebut sebelumnya telah mendapatkan perawatan, sehingga kebakaran yang terjadi menimbulkan kerugian bagi pengelola.

Aparatur Pekon Tebaliokh, Suryadi, menuturkan kebakaran pertama kali diketahui sekitar pukul 14.00 WIB. Saat api mulai muncul, petani yang selama ini mengelola perkebunan tersebut diketahui sedang tidak berada di lokasi.

“Api diketahui sekitar pukul 14.00 WIB. Untuk penyebabnya belum diketahui karena petani yang mengelola lahan sedang tidak berada di kebun,” ujar Suryadi.

Setelah diketahui, api kemudian menjalar ke bagian areal perkebunan dan membakar beragam tanaman kopi. Berdasarkan pendataan sementara di lokasi, sedikitnya 1.500 batang tanaman kopi terdampak akibat kebakaran tersebut.

Suryadi menjelaskan, tanaman kopi yang terdampak bukan merupakan tanaman yang baru ditanam. Sebagian tanaman yang terbakar telah tumbuh dan berkembang serta tengah berada dalam tahap pengembangan sebelum memasuki masa produktif atau berbuah.

“Kopi yang terbakar itu bukan baru ditanam, tetapi sudah dalam fase mengembang dan sedang dipersiapkan menuju masa berbuah. Jadi tentu ada kerugian bagi petani karena tanaman tersebut sudah dirawat,” katanya.

Kerugian akibat kebakaran tersebut hingga kini belum dapat dihitung secara keseluruhan. Kerugian tidak hanya berasal dari kerusakan fisik tanaman kopi, tetapi juga dari hilangnya potensi hasil produksi yang seharusnya dapat diperoleh ketika tanaman memasuki masa berbuah.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena tanaman kopi membutuhkan waktu yang cukup panjang serta perawatan secara berkelanjutan sebelum mencapai fase produktif. Kerusakan tanaman ketika memasuki tahap pengembangan menuju masa berbuah membuat petani berpotensi kehilangan hasil dari tanaman yang telah dirawat sebelumnya.

Selain kehilangan tanaman, petani juga harus menanggung dampak dari biaya dan waktu yang telah dikeluarkan selama proses pemeliharaan. Dengan demikian, kebakaran tersebut memberikan dampak terhadap keberlangsungan pengelolaan perkebunan kopi di lokasi kejadian.

Meski sempat membakar bagian areal perkebunan, api akhirnya berhasil dipadamkan sehingga tidak terus meluas ke bagian lahan lainnya. Setelah proses pemadaman, kondisi lokasi kebakaran juga dinyatakan telah aman.

“Kami bersyukur api sudah padam. Mudah-mudahan tidak terjadi lagi dan masyarakat tetap waspada terhadap potensi kebakaran di lahan perkebunan,” ujar Suryadi.

Hingga saat ini, penyebab pasti kebakaran masih belum diketahui. Tidak adanya petani di lokasi saat api pertama kali muncul membuat sumber awal munculnya api belum dapat dipastikan.

Aparatur Pekon Tebaliokh menghimbau masyarakat, khususnya para petani dan pengelola lahan perkebunan, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran. Imbauan tersebut dinilai penting, terutama ketika kondisi lingkungan cenderung kering dan api dapat dengan cepat menjalar melalui vegetasi maupun lahan perkebunan.

Peristiwa kebakaran yang menghanguskan tanaman kopi tersebut menjadi pengingat bagi pengelola perkebunan agar lebih berhati-hati dan segera melaporkan apabila menemukan tanda-tanda munculnya api. Upaya pencegahan dinilai penting untuk mencegah kejadian serupa kembali terjadi dan meluas hingga merusak lebih banyak tanaman kopi yang menjadi sumber penghidupan petani. (*).

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari