BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
(Karhutla) di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) mulai menimbulkan kekhawatiran warga yang tinggal di sekitar kawasan konservasi.
Selain terganggu asap yang menyebar hingga permukiman, warga Desa Tegal Yoso, Kecamatan Purbolinggo, Lampung Timur, juga khawatir gajah liar keluar dari habitatnya dan memasuki lahan pertanian maupun permukiman.
Warga Tegal Yoso, Muslimin, menyebutkan asap kebakaran mulai dirasakan sejak pagi. Kondisi tersebut membuat matanya perih dan napasnya terasa sesak, terutama ketika asap semakin pekat.
Menurut dia, dampak kebakaran kali ini lebih terasa dibandingkan kejadian pada tahun-tahun sebelumnya. Asap bahkan terlihat mendekati rumah warga yang diperkirakan berjarak sekitar 200 meter dari tepi hutan.
“Sesak, pedas mata, Pak,” kata Muslimin saat menggambarkan dampak asap yang dirasakannya, dilansir Kompascom, Jumat (16/10/2026).
Ia mengharapkan pemerintah segera mengambil langkah penanganan agar kebakaran tidak semakin meluas dan mengganggu aktivitas masyarakat di sekitar kawasan TNWK.
Di tengah kondisi tersebut, Muslimin juga mengkhawatirkan kemungkinan gajah liar memasuki lahan pertanian warga apabila kebakaran mengganggu habitat dan jalur pergerakannya.
Ia menyebut, pada tahun-tahun sebelumnya, kawanan gajah pernah melintasi persawahan dan merusak tanaman milik warga, mulai dari padi, jagung hingga singkong. Jumlah gajah yang melintas bervariasi, sekitar lima hingga sepuluh ekor dalam satu kelompok.
“Ya, padi, jagung, singkong. Walaupun singkong tidak dimakan, kalau dilewati gajah juga rusak,” ujarnya.
Meski demikian, Muslimin memastikan bahwa hingga saat ini dirinya belum melihat gajah keluar menuju permukiman akibat kebakaran yang sedang berlangsung.
Tanggul dan penjagaan pada malam hari selama ini turut membantu membatasi pergerakan satwa agar tidak masuk lebih jauh ke lahan pertanian dan kampung warga.
Kekhawatiran terhadap interaksi manusia dan gajah juga berkaitan dengan insiden yang pernah terjadi sebelumnya. Kepala Desa Braja Asri, Darusman, meninggal dunia setelah diserang dan diinjak gajah liar pada 31 Desember 2025.
Peristiwa itu terjadi di perbatasan kawasan TNWK dengan area perkebunan dan permukiman Desa Braja Asri, ketika korban bersama petugas gabungan dan warga berupaya menggiring kawanan gajah kembali ke dalam hutan.
Dampak kebakaran TNWK juga dirasakan hingga Kabupaten Lampung Tengah. beragam sekolah di Kecamatan Bandar Surabaya dan Seputih Surabaya menerapkan pembelajaran daring atau meliburkan sementara acara tatap muka untuk melindungi siswa dari paparan kabut asap.
Kebijakan tersebut mulai diberlakukan sejak pekan sebelumnya, setelah kualitas udara dinilai berisiko bagi kesehatan pelajar.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lampung Tengah, Nurohman, membenarkan penerapan kebijakan tersebut.
Ia menyebutkan, paparan asap berpotensi memicu gangguan pernapasan apabila siswa tetap menjalani aktivitas di luar ruangan.
Pihaknya masih mengevaluasi kondisi udara dan belum menetapkan waktu pasti pembelajaran tatap muka kembali diselenggarakan. Sekolah akan kembali beraktivitas normal setelah kondisi dinilai aman bagi siswa.
Sementara itu, data Balai TNWK yang disampaikan pada awal Oktober 2026 mencatat sebanyak 21 kejadian kebakaran dengan luas lahan terdampak sekitar 7.000 hektare sepanjang tahun ini.
Kebakaran di kawasan konservasi berpotensi merusak vegetasi serta memengaruhi ketersediaan pakan dan tempat berlindung satwa. Namun, kondisi terkini habitat dan pergerakan gajah di lokasi terdampak masih memerlukan pemantauan petugas.
Hingga berita ini diterbitkan, belum tersedia data terbaru yang terverifikasi mengenai perkembangan kebakaran maupun pergerakan gajah di sekitar permukiman warga.