Friday, 14 August 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

Jeritan Petambak Lampung di Tengah Banjir Udang Impor

14 August 2026 10:00 WIB
Oleh: Ahmad Fauzi
Dibaca: 2 kali
Bagikan:
Jeritan Petambak Lampung di Tengah Banjir Udang Impor
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

Tulang Bawang, ada kegelisahan yang sulit disembunyikan. Para petambak tidak hanya berhadapan dengan biaya produksi yang terus menguras modal, tetapi kini juga harus memikirkan ancaman lain: udang dari luar negeri yang masuk ketika mereka sendiri sedang berjuang menjual hasil panen.

Kegelisahan itu mencuat setelah terungkap sedikitnya 219 ton udang impor masuk ke Indonesia sepanjang Mei-Juni 2026, masing-masing 99 ton dari Argentina dan 120 ton dari Ekuador.

Data tersebut menjadi perhatian petambak karena udang dari Ekuador merupakan jenis vannamei, komoditas yang juga menjadi andalan budidaya petambak di Lampung. Bagi mereka, tambahan pasokan dari luar negeri berpotensi membuat harga di tingkat petambak semakin tertekan.

Petambak Dipasena, Arie Suharso menyampaikan, kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan besar. Sebab, ketika petambak lokal sudah mengeluarkan biaya untuk benur, pakan, listrik, obat-obatan hingga perawatan tambak selama berbulan-bulan, mereka tetap harus menerima kenyataan bahwa harga jual bisa jatuh ketika panen tiba.

"Kenapa impor bisa masuk? Padahal petambak kita memproduksi jenis udang yang sama dan sedang berjuang mendapatkan pasar serta harga yang layak?" kata Arie, dilansir Kompascom, Jumat (14/8/2026).

Bagi petambak, persoalannya bukan sekadar soal ada atau tidaknya udang impor di pasar. Ada siklus panjang yang dipertaruhkan setiap kali mereka menebar benur.

Udang yang sudah mencapai ukuran panen tidak mungkin disimpan berlama-lama sambil menunggu harga membaik.

Petambak harus segera memanen karena semakin lama dipelihara, semakin besar pula biaya yang harus dikeluarkan.

Dalam kondisi seperti itu, posisi tawar petambak menjadi sangat rentan ketika pasar mendapat tambahan pasokan dari luar negeri.

"Kalau pada saat yang sama pasar dibanjiri produk impor, posisi tawar petambak semakin lemah dan yang menanggung kerugian adalah petambak," ujarnya.

Arie, yang juga merupakan pengurus DPP Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI), menilai situasi tersebut terasa ironis. Udang merupakan salah satu komoditas unggulan perikanan Indonesia dan memiliki pasar ekspor yang besar.

Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat nilai ekspor udang Indonesia pada 2025 mencapai sekitar US$1,87 miliar.

Di satu sisi Indonesia berusaha memperkuat produksi dan ekspor, tetapi di sisi lain petambak mempertanyakan masuknya udang konsumsi dari negara lain yang berpotensi menambah tekanan terhadap pasar domestik.

Di balik angka ratusan ton itu, ada kehidupan petambak yang dipertaruhkan. Ada modal yang harus kembali, pekerja yang harus dibayar, keluarga yang menggantungkan penghasilan dari tambak, serta siklus produksi yang tidak bisa dihentikan hanya karena harga sedang tidak bersahabat.

Karena itu, Arie meminta pemerintah benar-benar mempertimbangkan kondisi petambak lokal sebelum membuka ruang bagi impor udang.

"Jangan sampai setelah petambak berproduksi, pasar dalam negeri justru diacak-acak produk udang dari negara lain," tegasnya.

Bagi petambak Dipasena, yang mereka minta bukan sekadar harga tinggi, melainkan kesempatan untuk tetap hidup dari tambak yang selama ini mereka rawat dengan susah payah.

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari