Monday, 03 August 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

Harga Empat Komoditas Pangan di Metro Naik, Cabai Hijau Tembus Rp38 Ribu

03 August 2026 10:00 WIB
Oleh: Dewi Kartika
Dibaca: 1 kali
Bagikan:
Harga Empat Komoditas Pangan di Metro Naik, Cabai Hijau Tembus Rp38 Ribu
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

Stabilitas harga pangan di Kota Metro kembali mendapat ujian. Dalam sepekan terakhir, empat komoditas kebutuhan pokok mengalami kenaikan harga. Lonjakan paling mencolok terjadi pada cabai hijau yang melesat hingga 52 persen, memicu kekhawatiran masyarakat terhadap semakin beratnya beban belanja rumah tangga.

Berdasarkan hasil pantauan harga sembako pada Senin (3/8/2026), komoditas yang mengalami kenaikan dibandingkan Minggu (26/7/2026) meliputi cabai merah, cabai hijau, bawang putih, dan telur ayam ras. Sementara komoditas pangan lainnya masih bertahan pada harga sebelumnya.

Data menunjukkan harga cabai hijau naik dari Rp25 ribu menjadi Rp38 ribu per kilogram atau bertambah Rp13 ribu per kilogram. Kenaikan ini menjadi yang tertinggi dibandingkan komoditas lainnya. Cabai merah juga mengalami kenaikan dari Rp30 ribu menjadi Rp32 ribu per kilogram.

Tak hanya itu, bawang putih ikut terkerek dari Rp35 ribu menjadi Rp40 ribu per kilogram. Sementara telur ayam ras naik tipis dari Rp27 ribu menjadi Rp28 ribu per kilogram. Meski nominalnya tidak sebesar cabai, kenaikan tersebut tetap berdampak karena merupakan kebutuhan pokok yang dikonsumsi hampir setiap hari.

Di tengah kenaikan empat komoditas tersebut, harga beras premium masih bertahan di Rp15 ribu per kilogram, beras medium Rp12.500, gula pasir Rp18 ribu, minyak goreng kemasan Rp19 ribu, minyak goreng tanpa merek Rp17.300, terigu bermerek Rp12.500, daging sapi Rp105 ribu per kilogram, ayam kampung Rp45 ribu per kilogram, telur ayam kampung Rp2.500 per butir, dan garam yodium 200 gram Rp2.500.

Meski jumlah komoditas yang naik tidak banyak, lonjakan harga cabai hijau menjadi sinyal yang patut diwaspadai. Sebab, cabai merupakan salah satu bahan pangan yang memiliki pengaruh besar terhadap pengeluaran rumah tangga dan pelaku usaha kuliner.

Pedagang di pasar Hamparan Jalan Agus Salim Metro Pusat mengaku kenaikan harga mulai terjadi sejak beberapa hari terakhir. Mereka menyebut pasokan dari daerah pemasok di Pulau Jawa mengalami penurunan sehingga harga di tingkat pedagang ikut menyesuaikan.

Salah seorang pedagang sembako di Pasar pusat Kota Metro, Amirudin (55) menjelaskan kenaikan paling terasa terjadi pada cabai hijau dan bawang putih. Menurutnya, kondisi tersebut membuat banyak pembeli mengurangi jumlah belanja.

"Cabai hijau naiknya paling tinggi. Minggu lalu masih Rp25 ribu, sekarang sudah Rp38 ribu per kilo. Bawang putih juga ikut naik. Banyak pembeli akhirnya mengurangi belanja karena uangnya tidak cukup," ujarnya kepada awak media, Senin (3/8/2026).

Di sisi lain, masyarakat mulai merasakan dampak langsung dari kenaikan tersebut. Harga yang terus bergerak naik memaksa sebagian warga menyesuaikan kebutuhan belanja harian agar pengeluaran tetap terkendali.

Seorang pembeli asal Metro Timur, Tina (42) mengaku harus mengurangi pembelian cabai dan bahan dapur lainnya karena anggaran belanja keluarga tidak ikut bertambah.

"Sekarang belanja harus benar-benar dihitung. Cabai naik tinggi, telur juga naik. Kalau begini terus, kami terpaksa mengurangi belanja supaya pengeluaran rumah tangga tidak membengkak," katanya.

Kenaikan harga pangan seperti ini bukan hanya persoalan angka di papan informasi pasar. Bagi masyarakat, setiap kenaikan berarti bertambahnya beban ekonomi, terutama bagi keluarga dengan penghasilan tetap maupun pelaku usaha kecil yang bergantung pada stabilitas harga bahan baku.

Padahal, dalam rilis resmi Pemkot Metro dan Pemkab Solok sebelumnya diklaim telah memperkuat sinergi pengendalian inflasi melalui penandatanganan Kesepakatan Bersama dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) di bidang pemenuhan kebutuhan barang pokok strategis, khususnya komoditas bawang merah pada Kamis (30/7/2026) di Kantor Bupati Solok, Sumatera Barat.

Kerja sama tersebut diklaim menggunakan skema Government to Government (G2G) dan juga diperkuat melalui pola Business to Business (B2B) yang mempertemukan pelaku usaha atau offtaker dari Kota Metro dengan petani maupun pengepul bawang merah di Kabupaten Solok.

Skema ini difasilitasi oleh Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Lampung sebagai bagian dari upaya memperkuat stabilitas pasokan dan harga pangan. Kolaborasi ini menjadi semakin strategis mengingat Kabupaten Solok merupakan salah satu sentra hortikultura terbesar di Sumatera, serta menjadi sentra produksi bawang merah terbesar kedua di Indonesia setelah Kabupaten Brebes.

Dengan mengedepankan prinsip 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif. Implementasinya diwujudkan melalui Gerakan Pangan Murah, fasilitasi distribusi pangan, hingga pengembangan kerja sama antardaerah sebagai instrumen menjaga keseimbangan pasokan dan harga.

Namun faktanya berbeda, Pemerintah Kota Metro bersama instansi terkait dituntut tidak sekadar mencatat perubahan harga setiap pekan, tetapi juga memastikan distribusi pangan berjalan lancar dan pasokan dari sentra produksi tetap terjaga. Langkah cepat diperlukan agar lonjakan harga tidak terus berlanjut dan memicu kenaikan komoditas lainnya.

Jika kondisi ini dibiarkan tanpa upaya pengendalian yang efektif, gejolak harga pangan berpotensi menekan daya beli masyarakat. Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, stabilitas harga kebutuhan pokok menjadi salah satu ukuran nyata keberhasilan pemerintah dalam menjaga kesejahteraan masyarakat, bukan sekadar menyajikan angka-angka pemantauan di atas kertas. (*)

KMP Mutiara Sentosa 2 Terbakar Merenggut 5 Nyawa, KNKT Segera Investigasi

Musibah kebakaran kapal penumpang kembali melanda perairan Madura, Jawa Timur. Kapal Motor Penumpang (KMP) Mutiara Sentosa 2 milik PT Atosim Lampung Pelayaran (ALP) yang melayani rute Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya menuju Makassar terbakar di perairan utara Kabupaten Sumenep, Madura, pada Minggu (2/8/2026) pagi.

Insiden tersebut memicu kepanikan ratusan penumpang yang berada di atas kapal dan menimbulkan korban jiwa. Sebagian di antaranya terpaksa melompat ke laut untuk menyelamatkan diri dari kobaran api dan kepulan asap tebal.

Berdasarkan data manifest resmi dari Polairud Polda Jatim, KMP Mutiara Sentosa 2 mengangkut total 232 jiwa penumpang dengan rincian sopir dan kernet: 219 orang, penumpang dewasa 13 orang.

Selain itu, kapal juga membawa 181 unit kendaraan, yang terdiri dari sepeda motor: 15 unit, mobil Kecil 25 unit, truk sedang 6 unit, truk besar 103 unit, tronton 31 unit dan alat Berat: 1 unit

Hingga update data terbaru pukul 17.00 WIB, total 232 korban berhasil dievakuasi oleh 9 kapal penolong dengan rincian 227 penumpang selamat dan 5 orang meninggal dunia:

"Korban berhasil dievakuasi, selamat 227 dan meninggal dunia 5," kata Kepala Kantor SAR Surabaya Nanang Sigit dalam keterangannya, Senin (3/8/2026).

PT Atosim Lampung Pelayaran (ALP) selaku operator kapal menerima informasi awal mengenai kebakaran dari nakhoda. Namun, setelah laporan pertama disampaikan, komunikasi dengan nakhoda terputus sehingga perkembangan situasi di lapangan sempat belum diketahui.

Laporan resmi kebakaran kemudian diterima oleh petugas siaga Kantor SAR Surabaya dari Syahbandar Tanjung Perak pada pukul 08.24 WIB, dilanjutkan konfirmasi dari PT ALP pada pukul 08.25 WIB.

Sekitar pukul 09.45 WIB, laporan dari Kapal Meratus Project 3 yang berada di sekitar lokasi mengungkapkan bahwa kondisi KMP Mutiara Sentosa 2 hampir terbakar habis.

Tim SAR Gabungan: Kantor SAR Surabaya, Pos SAR Sumenep (mengerahkan RIB 01), Syahbandar Tanjung Perak, SROP Kalianget, KSOP Kalianget, hingga Ditpolairud Polda Jatim mengerahkan alutsista termasuk KN SAR 249 Permadi menuju lokasi kejadian.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan infrastruktur dan pengembangan Kewilayahan (Menko IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengungkapkan pemerintah segera melakukan investigasi terkait insiden kebakaran KM Mutiara Sentosa di perairan utara Madura.

Dirinya menyampaikan belasungkawa dan keprihatinan mendalam atas insiden kebakaran KM Mutiara Sentosa di perairan utara Madura.

“Pemerintah segera luncurkan investigasi, karena kita harus tahu persis apa penyebab dari insiden tersebut,” ujar AHY dalam keterangannya di Jakarta, Senin (3/8/2026).

Terkait keselamatan perhubungan laut, dia menekankan pentingnya pengecekan ulang terkait aspek kondisi kapal, SDM terkait personil kapan dan penumpang, serta cuaca.

“Investigasi akan dilakukan oleh KNKT, Komite Nasional Keselamatan Transportasi, dan butuh waktu untuk menjelaskan kepada kita semua apa penyebabnya,” katanya. (*)

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari