Tuesday, 13 October 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

Gunung Anak Krakatau Erupsi 26 Kali Dalam Sehari

13 October 2026 09:00 WIB
Oleh: Ahmad Fauzi
Dibaca: 3 kali
Bagikan:
Gunung Anak Krakatau Erupsi 26 Kali Dalam Sehari
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, meningkat pada awal Oktober 2026.

Dalam kurun lima hari, 5–9 Oktober 2026, gunung api tersebut tercatat mengalami 31 kali erupsi, dengan frekuensi letusan tertinggi terjadi pada 9 Oktober sebanyak 26 kali.

Meski tidak ada laporan erupsi lanjutan selama 10–12 Oktober 2026, status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Kondisi tersebut membuat masyarakat dan pengunjung diminta tetap mematuhi rekomendasi keselamatan serta tidak mengabaikan potensi bahaya vulkanik.

Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Suwarno, menyampaikan data erupsi tersebut merujuk pada hasil pemantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

“Mulai tanggal 5 Oktober terjadi empat kali erupsi, kemudian tanggal 8 Oktober satu kali, puncaknya pada 9 Oktober terjadi 26 kali erupsi,” kata Suwarno di Lampung Selatan, Senin (12/10/2026).

Ia menjelaskan, hingga Senin (12/10/2026), aktivitas erupsi belum kembali tercatat sejak kejadian terakhir pada 9 Oktober. Namun, kondisi tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa aktivitas gunung api telah sepenuhnya mereda.

Pemantauan terhadap perkembangan aktivitas vulkanik tetap dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan perubahan kondisi.

Dengan status Level III atau Siaga, masyarakat diminta menjauhi kawasan Gunung Anak Krakatau, khususnya area dalam radius lima kilometer dari kawah aktif.

Pembatasan tersebut diberlakukan sebagai langkah pencegahan untuk mengurangi risiko apabila terjadi erupsi atau peningkatan aktivitas vulkanik yang membahayakan keselamatan.

Suwarno menambahkan keterangan, pengamatan terhadap Gunung Anak Krakatau dilakukan selama 24 jam melalui pemantauan visual dan instrumental. Nelayan yang beraktivitas di perairan Selat Sunda juga diimbau untuk mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas gunung api dan memperhatikan kondisi cuaca sebelum melaut.

Masyarakat diharapkan tidak mudah menyimpulkan kondisi gunung api hanya berdasarkan tidak adanya letusan dalam beberapa hari terakhir.

Informasi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau perlu mengacu pada laporan resmi petugas pemantauan dan instansi berwenang agar langkah antisipasi dapat dilakukan sesuai perkembangan situasi. (*)

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari