BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
Pendidikan seharusnya menjadi jalan bagi anak-anak menuju masa depan. Namun, bagi siswa SMP Negeri 2 Ulubelu, Kabupaten Tanggamus, jalan menuju sekolah justru menjadi medan perjuangan.
Setiap hari mereka harus berjibaku menerobos lumpur, melewati kubangan, menaklukkan tanjakan dan turunan curam, bahkan menghadapi risiko terjatuh hanya untuk sampai ke ruang kelas.
Ironisnya, kondisi memprihatinkan itu bukan terjadi sesekali. Saat musim penghujan tiba, akses menuju SMPN 2 Ulubelu yang berada di Jalan Raya Gunungsari, Pekon Gunungsari, Kecamatan Ulubelu, Kabupaten Tanggamus berubah menjadi lintasan lumpur yang menyulitkan para pelajar.
Siswa yang menggunakan sepeda motor harus ekstra hati-hati. Jalan tanah yang licin, bebatuan lepas, serta kubangan yang menganga membuat kendaraan sulit dikendalikan. Tak jarang, para pelajar terjatuh saat berusaha melewati jalur tersebut.
Sepatu sekolah yang seharusnya digunakan untuk mengikuti pelajaran dengan nyaman terpaksa dilepas. Seragam yang semestinya bersih berubah kotor terkena lumpur.
Bahkan, perjalanan menuju sekolah yang seharusnya menjadi rutinitas biasa berubah menjadi perjuangan menguras tenaga dan menguji keselamatan.
Wahyu, salah seorang siswa, mengungkapkan bahwa saat musim kemarau jalan masih relatif mudah dilewati karena permukaan tanah mengeras. Namun, ketika hujan turun, perjalanan menuju sekolah menjadi jauh lebih sulit.
"Kalau kemarau dan tanahnya keras, jalan menuju sekolah lancar-lancar saja. Tapi kalau sudah musim penghujan seperti saat ini, ke sekolah adalah perjuangan. Jalan becek, bahkan berubah menjadi kubangan babi," kata Wahyu, Selasa (3/11/2026).
Pengakuan tersebut menggambarkan beratnya kondisi yang harus dihadapi para pelajar. Mereka tidak punya banyak pilihan selain tetap melewati jalan tersebut setiap hari demi mendapatkan pendidikan.
Novita, siswa lainnya, menyampaikan akses menuju sekolah dipenuhi berbagai rintangan fisik akibat kondisi jalan desa yang rusak parah.
Wilayah pegunungan membuat jalur sepanjang kurang lebih empat kilometer itu dipenuhi tanjakan dan turunan cukup curam. Kondisi semakin berbahaya karena permukaan jalan masih berupa tanah kuning dan bebatuan lepas.
"Tak jarang, para siswa terpaksa melepas sepatu agar lebih mudah melewati jalan berlumpur dan bisa tiba di sekolah tepat waktu," kata dia.
Sebuah potret yang menyedihkan, dimana anak-anak harus berjuang menyelamatkan sepatu dan menjaga langkah agar tidak terperosok sebelum sampai ke sekolah.
Persoalannya bukan sekadar jalan becek ketika hujan. Kerusakan tersebut mencakup sebagian besar ruas jalan di wilayah Pekon Sinar Banten, Gunungsari hingga Ulu Semuong, dengan panjang keseluruhan sekitar tujuh kilometer.
Dari total panjang tersebut, baru sekitar 800 meter yang mendapat pengerasan batu (onderlagh) dan sekitar 450 meter yang dicor beton. Sementara sekitar 5,75 kilometer lainnya masih berupa jalan tanah yang rusak parah, berlumpur, dan berubah menjadi kubangan saat musim penghujan.
Artinya, sebagian besar ruas jalan masih membutuhkan penanganan serius. Dampaknya bukan hanya dirasakan pengguna kendaraan, tetapi juga masyarakat yang menggantungkan aktivitas sehari-hari pada satu-satunya akses utama tersebut.
Widodo (41),salah seorang warga setempat, memiliki harapan pemerintah segera mengambil langkah nyata memperbaiki jalan yang selama ini menjadi keluhan masyarakat.
"Kasihan warga kami dan anak sekolah yang sering terjebak lumpur saat melintas. Jalan ini satu-satunya akses utama masyarakat setempat melakukan aktivitas," ujarnya.
Keluhan warga dan kesulitan yang dialami para siswa semestinya tidak dipandang sebagai persoalan biasa. Jalan yang rusak telah menyentuh kebutuhan mendasar masyarakat, mulai dari pendidikan, mobilitas, hingga aktivitas ekonomi.
Pemerintah daerah dan instansi terkait perlu memberikan kepastian mengenai penanganan ruas jalan tersebut. Masyarakat membutuhkan perbaikan nyata, bukan sekadar janji atau perhatian sesaat ketika keluhan kembali mencuat.
"Sebab, anak-anak sekolah tidak seharusnya menjadi pihak yang terus menanggung akibat buruknya infrastruktur. Mereka memiliki hak untuk mendapatkan akses pendidikan yang layak dan perjalanan yang aman," ungkap Sumarni, seorang ibu rumah tangga.
Menurut Sumarni, jangan sampai anak-anak Ulubelu harus menjadi petarung lumpur setiap pagi hanya untuk mengejar cita-cita.
"Mereka sudah berjuang untuk masa depan. Sekarang, pemerintah harus menjawab perjuangan itu dengan pembangunan daerah jalan yang layak," ujarnya.