BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
di Bandar Lampung terpantau terbatas. Bahkan, salah satu gerai dilaporkan mengalami kekosongan stok beras premium selama kurang lebih satu bulan terakhir.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Lampung. Pemerintah daerah bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Perum Bulog akan terus melakukan pemantauan terhadap ketersediaan serta harga beras di tingkat ritel.
Kabid Perdagangan Dalam Negeri Disperindag Provinsi Lampung, Panca Hartono, mengungkapkan pemantauan akan terus dilakukan, termasuk dengan mendampingi Bapanas di beragam ritel dan swalayan.
“Insyaallah akan tetap melakukan pemantauan di ritel atau swalayan. Mungkin dalam pekan ini, kami dari Disperindag Provinsi Lampung akan siap mendampingi Bapanas sampai hari Sabtu,” kata Panca saat dimintai keterangan, Senin (5/10/2026).
Menurutnya, keterbatasan stok beras premium di ritel modern bukan berarti terjadi kelangkaan secara menyeluruh. Ketersediaan beras masih ada, tetapi distribusinya dinilai belum merata.
“Pantauan kekosongan ini ada mungkin satu bulan ini. Tapi bukan kekosongan full, ya, mungkin tidak terlalu banyak. Kami menilai bahwa sebenarnya selama ini masih ada, cuma mungkin tidak meratanya penyuplaian barang-barang tersebut,” ujarnya.
Panca menjelaskan, salah satu faktor yang menyebabkan beras premium tidak tersedia di beragam ritel modern adalah harga dari pemasok yang dinilai sulit disesuaikan dengan Harga Eceran Tertinggi (HET).
Menurut dia, pelaku ritel pada dasarnya tetap membutuhkan pasokan barang. Namun, mereka juga mempertimbangkan risiko apabila harus menjual beras dengan harga melebihi HET.
“Di ritel modern sendiri beras kosong mungkin karena harganya tidak bisa mereka jual di bawah HET. Makanya mereka menyediakan barang, memang saat ini ada kekosongan. Mereka khawatir menjual dengan harga tinggi atau di atas HET,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara ketersediaan pasokan dan harga jual di tingkat konsumen.
Disperindag Lampung bersama Bulog, kata Panca, akan terus berkoordinasi untuk memastikan distribusi beras berjalan dan ketersediaan di pasaran tetap terjaga.
“Kami akan terus koordinasi, dari Disperindag ataupun dari Bulog sendiri akan terus berkoordinasi,” katanya.
Selain persoalan stok, Panca mengungkapkan bahwa sebelumnya sempat terjadi pembatasan pembelian beras di beragam ritel. Namun, kondisi tersebut kini mulai kembali normal.
“Ada pembatasan pembelian, sempat kemarin. Tapi sekarang sudah mulai normal kembali,” ujarnya.
Ia menilai kondisi pasokan dan harga beras saat ini dipengaruhi oleh beragam faktor, mulai dari kondisi cuaca, ketersediaan stok, kenaikan harga gabah hingga biaya transportasi.
“Kemarau, stok juga, terus banyak karena gabah. Seperti disampaikan Bapak tadi dari Bapanas, bahwa harga gabah kering naik. Kemudian memang ada faktor transportasi yang mengakibatkan harganya naik. Semua itu ada faktornya,” kata Panca.
Untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga beras, Disperindag Provinsi Lampung akan melakukan pemantauan secara berkelanjutan hingga akhir Oktober 2026.
Pemantauan tidak hanya ditujukan untuk melihat ketersediaan stok, tetapi juga memberikan edukasi dan pemahaman kepada pelaku usaha agar menjual beras sesuai ketentuan harga yang berlaku.
“Insyaallah kita melakukan pemantauan sampai akhir Oktober 2026. Semoga dengan pemantauan ini bisa memberikan edukasi, pengertian kepada para ritel ataupun pelaku usaha untuk menjual di bawah HET,” pungkasnya.
Pemerintah menginginkan koordinasi antara Disperindag, Bapanas, Bulog, dan pelaku usaha dapat menjaga distribusi beras tetap lancar. Dengan demikian, masyarakat tetap dapat memperoleh beras dengan harga yang terjangkau dan ketersediaan yang memadai di pasaran.