Monday, 05 October 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

Beras Premium Kosong Sebulan di Ritel Bandar Lampung

05 October 2026 09:00 WIB
Oleh: Rina Wulandari
Dibaca: 3 kali
Bagikan:
Beras Premium Kosong Sebulan di Ritel Bandar Lampung
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

di Bandar Lampung, terbatas. Bahkan, salah satu gerai melaporkan stok beras premium kosong selama sekitar satu bulan. 

Kondisi tersebut ditemukan saat Satgas Pengawasan Harga dan Mutu Beras Wilayah Lampung memeriksa tiga ritel modern, Sabtu (3/10/2026). 

Pemantauan dilakukan di Chandra Supermarket Tanjung Karang, Superindo Tirtayasa, dan Indogrosir Soekarno Hatta. Pemeriksaan melibatkan Polda Lampung, Bapanas, Bulog, serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Lampung. 

Selain menemukan stok yang terbatas, petugas juga mendapati adanya pembatasan pembelian beras untuk mencegah persediaan cepat habis.

Kabid Humas Polda Lampung Kombes Pol Yuni Iswandari Yuyun menyebutkan, pengawasan dilakukan untuk memastikan harga dan ketersediaan beras sesuai dengan ketentuan pemerintah.

“Pemantauan ini kami lakukan bersama instansi terkait untuk melihat langsung kondisi harga dan ketersediaan beras di lapangan,” kata Yuni, dilansir Kompascom, Senin (5/10/2026).

Di Superindo Tirtayasa, stok beras premium dilaporkan kosong selama sekitar satu bulan. Pengelola menyebut pasokan beras premium bergantung pada pengiriman dari kantor pusat yang masih terbatas. 

Sementara itu, Indogrosir Soekarno Hatta hanya menyediakan beras premium kemasan 10 kilogram. Stok beras merek Rosa tercatat 8 ton atau sekitar 800 sak, sedangkan Dua Koki hanya sekitar 100 sak. 

Beras kemasan 5 kilogram tidak tersedia di Indogrosir saat pemeriksaan. Untuk mencegah stok cepat habis, toko membatasi pembelian maksimal satu sak bagi anggota rumah tangga dan tiga sak bagi anggota warung dalam setiap transaksi.

Di Chandra Supermarket, pembelian juga dibatasi ketika permintaan dalam jumlah besar meningkat. Pengelola menyebut beberapa pedagang pasar tradisional mencoba membeli beras di ritel modern karena adanya perbedaan harga.

“Dari hasil pemantauan, kami memperoleh gambaran mengenai kondisi stok dan kendala distribusi. Temuan ini menjadi bahan koordinasi untuk menindaklanjuti persoalan di lapangan,” ujar Yuni.

Keterbatasan pasokan juga terjadi pada beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Di Chandra Supermarket, beras SPHP kemasan 5 kilogram dijual Rp 62.500. Namun, stok SPHP di Superindo sedang kosong. Sementara itu, Indogrosir melaporkan pasokannya terbatas dan tidak menentu.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena beras SPHP merupakan salah satu pilihan masyarakat ketika beras premium sulit diperoleh. Yuni menyebutkan, pengawasan tidak hanya menyasar harga jual, tetapi juga ketersediaan dan mutu beras yang dipasarkan.

“Kami terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memantau harga, mutu, dan distribusi beras agar kondisi di lapangan dapat ditindaklanjuti sesuai kewenangan masing-masing,” kata Yuni.

Di tengah keterbatasan stok, harga beras yang ditemukan petugas masih berada sesuai acuan harga eceran tertinggi (HET). Ritel yang diperiksa melaporkan harga beras premium kemasan 10 kilogram sebesar Rp 149.000. Sementara beras SPHP kemasan 5 kilogram dijual Rp 62.500. 

Namun, pelaku usaha mengeluhkan tingginya harga modal dari pemasok. Di Indogrosir, misalnya, harga modal beras Rosa dan Dua Koki mencapai sekitar Rp 148.000 per sak.

Beras tersebut kemudian dijual Rp 149.000 per sak. Selisih harga yang tipis membuat margin penjualan pedagang menjadi terbatas.

Di sisi lain, persoalan stok membuat konsumen belum tentu dapat membeli beras sesuai kebutuhan meski harga di gerai masih terkendali. Yuni menggarisbawahi, hasil pengawasan akan menjadi bahan evaluasi bersama instansi terkait, termasuk apabila ditemukan indikasi pelanggaran dalam perdagangan beras.

“Apabila ditemukan indikasi pelanggaran, kami akan berkoordinasi dengan instansi berwenang untuk menindaklanjutinya sesuai ketentuan yang berlaku,” ujar Yuni. 

Satgas menjadwalkan pemantauan lanjutan pada Senin (5/10/2026) di Pasar Way Halim, Pasar Gintung, Pasar Tugu, Pasar Kangkung, serta Toko Beras Sariwangi Telukbetung, Kota Bandar Lampung. (*)

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari