BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
Polairud Polda Lampung langsung menyisir pesisir Teluk Semangka dan melarang nelayan melaut.
Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara (Dit Polairud) Polda Lampung melalui personel Kapal Polisi XXV-1011 Kota Agung melaksanakan patroli hotspot dan quick response terkait kondisi Gunung Anak Krakatau, Minggu (6/9/2026).
Patroli yang berlangsung pada pukul 08.00 hingga 09.21 WIB tersebut menyasar masyarakat pesisir dan nelayan di kawasan Teluk Semangka, Kota Agung, Kabupaten Tanggamus.
Danpos Aipda Sudarwanto, S.H., bersama personel Polairud memberikan imbauan keselamatan langsung di dermaga pelelangan ikan Kota Agung menyusul adanya semburan abu vulkanik yang mengarah ke pesisir Lampung dan Banten.
“Kami menyerukan kepada masyarakat pesisir, khususnya nelayan, agar lebih berhati-hati dan untuk sementara tidak melaut. Jika harus beraktivitas di luar rumah, gunakan masker dan selalu utamakan keselamatan,” ujar Aipda Sudarwanto.
Selain imbauan, personel Polairud membagikan masker kepada nelayan sebagai bentuk kepedulian dan respons cepat Polri. Personel lainnya, Aipda Sabri bersama Bripda Ahmad Jumaidi dan Bripda Irvan, turut meningkatkan kewaspadaan warga di kawasan pesisir.
Polairud juga meminta masyarakat tidak menyebarluaskan informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau dan hanya mengikuti arahan resmi dari instansi berwenang.
Erupsi Menerus dan Lava Fountain 400 Meter
Patroli Polairud ini merespons aktivitas vulkanik Anak Krakatau yang kembali intensif. Data Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat erupsi menerus terjadi sejak Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB hingga Sabtu (5/9/2026) pagi.
Fenomena yang terlihat adalah lava fountain atau air mancur lava yang memancarkan pijaran merah terang di tengah kegelapan malam. Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau, Andi Suardi, membenarkan fenomena tersebut merupakan aktivitas lava fountain.
Laporan Pos Pengamatan menyebutkan semburan lava pijar diperkirakan mencapai ketinggian 100 hingga 400 meter dari puncak kawah. Pada pengamatan malam hari, kolom abu sulit teramati akibat cuaca, namun pijaran merah menyala terlihat jelas secara menerus dari Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Pasauran, Serang.
Badan Geologi juga mencatat sebaran abu vulkanik bergerak ke arah barat daya dan selatan, meliputi wilayah Banten, Lampung, hingga Sumatera bagian selatan, dengan kolom abu yang terdeteksi mencapai ketinggian hingga 14,6 kilometer ke atmosfer.
Status Tetap Level III Siaga, Radius 3 Kilometer Steril
Hingga Minggu (6/9/2026), status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga, status yang telah ditetapkan sejak 2 Juli 2026.
Kepala Badan Geologi Lana Saria menggarisbawahi, radius 3 kilometer dari pusat aktivitas harus dikosongkan dari aktivitas masyarakat, pengunjung, wisatawan, maupun pendaki karena potensi aliran lava dan lontaran material pijar.
Rekomendasi resmi PVMBG yang dikutip Pos Pengamatan juga melarang aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
“Situasi Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat diminta tetap tenang, waspada, dan menunggu instruksi selanjutnya dari Kementerian ESDM, Badan Geologi, PVMBG, serta Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau,” imbau petugas Polairud di lapangan.
Patroli quick response ini merupakan bagian dari upaya Polairud Polda Lampung untuk memastikan keselamatan masyarakat pesisir, khususnya nelayan yang beraktivitas di sekitar Teluk Semangka, di tengah meningkatnya aktivitas vulkanik Anak Krakatau yang disertai gemuruh dan dentuman yang terdengar hingga Banten-Lampung. (*)