Wednesday, 09 September 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

Abu GAK Masih Mengarah ke Lampung, OMC Kembali Dikerahkan untuk Mengurai Debu Vulkanik

09 September 2026 19:00 WIB
Oleh: Dewi Kartika
Dibaca: 2 kali
Bagikan:
Abu GAK Masih Mengarah ke Lampung, OMC Kembali Dikerahkan untuk Mengurai Debu Vulkanik
Foto: Radar Lampung

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

Pemerintah kembali mengerahkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menangani dampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK).

Abu vulkanik tersebut masih terpantau mengarah ke wilayah Lampung pada Rabu, 9 September 2026.

Pesawat OMC telah diberangkatkan sekitar pukul 11.00 WIB menuju wilayah Lampung bagian selatan.

Operasi kali ini bukan untuk membuat hujan, melainkan menggunakan bahan semai berupa surfaktan.

Bahan tersebut ditujukan untuk membantu meminimalkan partikel polusi maupun abu vulkanik.

Kepala BPBD Provinsi Lampung Aswarodi menuturkan, pesawat diarahkan mencari wilayah yang berpotensi mengalami penumpukan abu vulkanik.

"Sasarannya adalah mencari area yang memiliki potensi penumpukan abu vulkanik," kata Aswarodi dalam penyampaian pembaruan aktivitas GAK, Rabu, 9 September 2026.

"Area prioritas disesuaikan dengan kondisi sebaran abu serta faktor keselamatan penerbangan," lanjutnya.

Menurutnya, wilayah dengan konsentrasi abu vulkanik terlalu tinggi justru harus dihindari.

Kondisi tersebut berpotensi membahayakan mesin pesawat.

Aswarodi memastikan, OMC yang kembali dijalankan Pemprov Lampung bersama BNPB ini berbeda dengan operasi modifikasi cuaca untuk menghasilkan hujan.

"Ini bukan untuk menurunkan hujan, melainkan untuk mengurai debu vulkanik," ujarnya.

Langkah tersebut dilakukan karena aktivitas GAK belum sepenuhnya berhenti.

Gunung api tersebut masih berstatus Level III atau Siaga.

Bahkan, pada Rabu dini hari pukul 00.47 WIB, GAK kembali mengalami satu kali erupsi.

Erupsi tersebut tidak teramati secara visual, tetapi terekam seismograf dengan amplitudo maksimum 51 milimeter dan berlangsung selama 28 detik.

Meski demikian, hingga pukul 12.00 WIB tidak tercatat adanya erupsi tambahan.

Aktivitas kegempaan juga masih terjadi.

Dalam periode pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, tercatat dua kali gempa frekuensi rendah atau Low Frequency.

Selain itu, tercatat satu kali gempa Vulkanik Dangkal dan satu kali tremor menerus.

"Gempa-gempa berskala kecil ini merupakan penanda bahwa Gunung Anak Krakatau masih dalam keadaan aktif," jelas Aswarodi.

Abu Masih Mengarah Lampung

Ancaman abu vulkanik juga masih menjadi perhatian.

Berdasarkan analisis citra RGB Himawari-9 pukul 10.00 WIB, sebaran debu atau abu vulkanik teridentifikasi dari permukaan GAK.

Sebaran abu tersebut terpantau hingga ketinggian sekitar 7.000 kaki atau 2,1 kilometer.

Abu tersebut bergerak ke arah barat laut dan mencakup sebagian wilayah Provinsi Lampung.

Kondisi itu diperkuat hasil pemantauan langsung tim gabungan dari perairan Selat Sunda menggunakan KRI Lepu-861.

Tim terdiri atas BPBD Lampung, Lanal Lampung, Basarnas, Dinas Kelautan dan Perikanan, serta Dinas Lingkungan Hidup.

Selain itu, terdapat Badan Kesbangpol serta akademisi Institut Teknologi Sumatera (ITERA).

Dari pemantauan tersebut, aktivitas erupsi masih terlihat.

Asap putih dan abu vulkanik masih keluar dari tubuh gunung dan terbawa angin ke arah barat laut.

Namun, terdapat kecenderungan intensitas aktivitas menurun dibandingkan beberapa hari sebelumnya.

"Meskipun intensitasnya mulai menurun, pemantauan tetap dilakukan karena aktivitas vulkanik belum berhenti," kata Aswarodi.

"Perubahan morfologi gunung masih perlu diperhatikan," lanjutnya.

Karena itu, masyarakat diminta tidak lengah meski intensitas erupsi menunjukkan tren penurunan.

Masyarakat dan wisatawan dilarang mendekati kawasan dalam radius lima kilometer dari kawah aktif GAK.

Aktivitas di luar ruangan juga diminta dibatasi untuk mengantisipasi paparan abu vulkanik.

Masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan dianjurkan menggunakan masker.

BPBD juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengambil risiko mendekati kawasan gunung hanya untuk mengambil foto maupun video.

Informasi perkembangan aktivitas GAK diminta hanya mengacu pada sumber resmi.

Sumber tersebut antara lain PVMBG, BMKG, BPBD, dan pemerintah daerah. (*)

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari