Friday, 02 October 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

54 Kali Water Bombing, Tim Gabungan Masih Berjibaku Padamkan Api di TN Way Kambas

02 October 2026 12:00 WIB
Oleh: Ahmad Fauzi
Dibaca: 4 kali
Bagikan:
54 Kali Water Bombing, Tim Gabungan Masih Berjibaku Padamkan Api di TN Way Kambas
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

Upaya pemadaman kebakaran lahan di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, terus dilakukan secara intensif.

Hingga Kamis, (1/10/2026), luasan area yang terpantau terbakar diperkirakan mencapai sedikitnya 25 hektare, hingga saat ini penanganan kebakaran masih terus dilakukan.

Pemadaman dilakukan secara terpadu oleh BPBD Provinsi Lampung bersama BNPB, Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK), BPBD Lampung Timur, serta unsur tim terkait melalui operasi udara menggunakan helikopter water bombing (WB) dan pemadaman dari darat.

Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK), MHD Zaidi, menyampaikan jika operasi pemadaman difokuskan pada titik api di Grid 33 U. Kondisi vegetasi di lokasi yang terbakar didominasi semak belukar dengan karakteristik tanah gambut.

"Kondisi tersebut membuat proses pemadaman membutuhkan suplai air dalam jumlah besar serta waktu yang lebih lama karena api berpotensi merambat dan bertahan di bawah permukaan," katanya saat dimintai keterangan, Jum'at (2/10/2026).

Selain titik api utama, tim juga menemukan titik api baru di Titik B. Titik tersebut diduga merupakan sisa kebakaran pada 30 September 2026 yang kembali muncul setelah kawasan diterpa hembusan angin kencang.

"Dari sisi udara, helikopter water bombing telah melakukan sebanyak 54 kali penyiraman pada Kamis (1/10). Setelah pelaksanaan water bombing, beragam bagian fire spot (FS) masih terpantau mengeluarkan asap," tuturnya.

Dari pemantauan sementara, luas lahan terbakar diperkirakan sekitar 14 hektare pada area yang menjadi fokus operasi, sedangkan area yang mendapatkan penyiraman melalui water bombing diperkirakan mencapai sekitar 6 hektare.

Pemadaman udara terutama diarahkan untuk membantu menekan titik api dan memutus jalur rambatan kebakaran, khususnya api yang bergerak ke arah timur.

"Namun, kondisi kabut asap yang cukup tebal menyebabkan jarak pandang terbatas sehingga luasan kebakaran secara keseluruhan belum dapat dipastikan secara akurat," jelasnya.

Di sektor darat, personel Satgas melakukan penyisiran titik api sepanjang kurang lebih 800 meter hingga batas selang pemadam yang digunakan di lapangan.

Tim yang menggunakan jet shooter juga melakukan penyisiran pada sisi-sisi api untuk mengendalikan dan memutus perambatan kebakaran.

"Dalam operasi tersebut, tim darat diperkirakan berhasil memadamkan area seluas sekitar 10 hektare. Pemadaman dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi medan dan karakteristik lahan gambut," katanya.

Berdasarkan hasil pemantauan terakhir, masih terdapat titik api aktif di Titik B dengan estimasi luasan sekitar 15 hektare. Area tersebut terdiri atas dua titik api dengan perkiraan masing-masing sekitar 5 hektare dan 10 hektare.

Sementara itu, pada sektor yang mengarah ke timur masih ditemukan indikasi keberadaan api. Akan tetapi, luasannya belum dapat dipastikan karena tertutup kabut asap.

"Dengan kondisi tersebut, total luasan kebakaran aktual masih belum dapat ditentukan secara keseluruhan. Angka minimal yang berhasil terpantau hingga saat ini berada di kisaran 25 hektare," tambahnya.

Operasi pemadaman akan terus dilanjutkan dengan sistem dua shift, yakni pemadaman pada pagi hingga siang hari serta pemadaman malam hari. Pada malam hari, tim darat akan kembali menggunakan pompa portable dan peralatan tangan untuk melakukan penyisiran dan pendinginan di area yang masih berpotensi menyimpan bara.

Pemadaman malam dinilai penting karena kondisi cuaca yang lebih dingin diharapkan dapat membantu tim mengejar ketertinggalan antara kecepatan penyebaran api dengan kemampuan pemadaman di lapangan.

Selain operasi pemadaman darat, dukungan udara juga akan dilanjutkan dengan prioritas pada pemutusan jalur rambatan api, terutama ke arah timur.

Untuk memperkuat dukungan air, tim juga akan melanjutkan pembuatan sumur bor yang nantinya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan suplai air selama operasi pemadaman darat berlangsung.

Karakteristik lahan gambut menjadi salah satu tantangan utama dalam operasi pemadaman karena api dapat bertahan di dalam lapisan tanah dan kembali muncul ketika kondisi mendukung, terutama saat terjadi hembusan angin.

“Pemadaman terus dilakukan secara terpadu, baik melalui udara maupun dari darat. Tim akan terus melakukan penyisiran dan pendinginan untuk memastikan titik-titik api dapat dikendalikan,” ujar MHD Zaidi.

Ia menuturkan lebih lanjut, operasi pemadaman akan tetap dilakukan secara berkelanjutan, termasuk pada malam hari, dengan mempertimbangkan kondisi cuaca dan perkembangan titik api di lapangan.

“Kami fokus memutus jalur rambatan api, terutama yang mengarah ke timur. Dukungan suplai air juga terus diperkuat, termasuk melalui pembuatan sumur bor,” katanya.

Hingga akhir operasi pada Kamis (1/10), tim telah melaksanakan 54 kali water bombing, memadamkan sekitar 10 hektare melalui operasi darat, serta memberikan dukungan pemadaman udara pada sekitar 6 hektare area.

Meski demikian, kondisi kebakaran secara keseluruhan masih dalam pemantauan. Tebalnya kabut asap membuat proses pemetaan dan penghitungan luasan terbakar belum dapat dilakukan secara optimal. (*)

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari