Friday, 31 July 2026 | Bandar Lampung
Logo

TAPIS MEDIA

Beranda Lampung Pemerintahan Destinasi Info Harga Pasar

401 Siswa Mulai Tempati Sekolah Rakyat, Gubernur Mirza: Pendidikan Jadi Jalan Keluar dari Kemiskinan

31 July 2026 18:00 WIB
Oleh: Rina Wulandari
Dibaca: 2 kali
Bagikan:
401 Siswa Mulai Tempati Sekolah Rakyat, Gubernur Mirza: Pendidikan Jadi Jalan Keluar dari Kemiskinan
Foto: Kupas Tuntas

BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -

Orang nomor satu di Lampung Rahmat Mirzani Djausal menggarisbawahi Sekolah Rakyat menjadi salah satu instrumen penting untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan.

Hal itu disampaikannya usai menghadiri Open House Sekolah Rakyat Provinsi Lampung di kompleks Sekolah Rakyat, Kota Baru, Lampung Selatan, Jumat (31/7/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur mengungkapkan hasil evaluasi terhadap penyelenggaraan Sekolah Rakyat selama satu tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang sangat signifikan, terutama bagi para siswa yang sebelumnya putus sekolah.

"Ini luar biasa. Kita melihat satu tahun setelah berjalan Sekolah Rakyat, ada 71 siswa SMA yang sebelumnya merupakan siswa rintisan. Kita lihat bagaimana peningkatan kualitas diri mereka luar biasa. Yang tadinya putus sekolah, sekarang kembali bersekolah dan mendapatkan pendidikan dengan kualitas terbaik," kata Mirza.

Menurutnya, peningkatan kemampuan para siswa terlihat nyata, baik dalam penguasaan bahasa asing maupun kemampuan akademik.

"Tadi mereka sudah bisa bahasa Jepang, bahasa Arab, bahasa Inggris dengan lancar. Saya juga mendapat laporan aktivitas ekstrakurikuler mereka berprestasi. Kemampuan sains, matematika, dan fisikanya juga sangat baik. Ini luar biasa," ujarnya.

Mirza memiliki harapan capaian tersebut dapat menjadi motivasi bagi para peserta didik baru yang mulai menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat tahun ini.

"Harapan kami, anak yang baru masuk hari ini juga akan mengalami peningkatan kualitas belajar yang sangat baik demi menuju kemajuan Provinsi Lampung," katanya.

Ia menjelaskan seluruh peserta didik berasal dari keluarga yang masuk kategori Desil 1 dan Desil 2 atau kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan paling rendah.

"Semua mereka berasal dari Desil 1 dan Desil 2. Masya Allah, orang tuanya sangat sadar bahwa untuk mengangkat derajat keluarga mereka yang dibutuhkan adalah pendidikan anak. Pendidikan menjadi alat untuk mengangkat derajat mereka. Karena itu semangat orang tua luar biasa. Mudah-mudahan program ini terus berkembang dan semakin besar di Provinsi Lampung," ujarnya.

Gubernur optimistis kualitas pendidikan di Sekolah Rakyat mampu membuat para siswa lebih siap bersaing di masa depan.

"Anak kelas 1 SMA pada umumnya belum banyak yang bisa bahasa Jepang, bahasa Arab, atau bahasa Inggris, bahkan kemampuan matematikanya juga masih berkembang. Tetapi anak-anak di Sekolah Rakyat ini sudah berada di atas rata-rata. Saya rasa ke depan persaingan bukan hal yang sulit lagi bagi mereka," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Provinsi Lampung Aswarodi menjelaskan, pada tahun ajaran 2026/2027, Sekolah Rakyat Provinsi Lampung menampung total 401 siswa yang berasal dari berbagai jenjang pendidikan.

Rinciannya, Sekolah Rakyat 32 menerima 270 siswa baru, terdiri dari tiga jenjang pendidikan yakni SD, SMP, dan SMA. Masing-masing jenjang memiliki tiga rombongan belajar (rombel), dengan setiap rombel diisi 30 siswa sehingga totalnya mencapai 90 siswa per jenjang.

Selain itu, SRT 35 Bandar Lampung menerima kuota sebanyak 60 siswa, masing-masing 30 siswa untuk jenjang SD dan 30 siswa jenjang SMP.

Sementara 71 siswa lainnya merupakan siswa existing atau angkatan rintisan yang kini naik dari kelas X ke kelas XI SMA dan dipindahkan ke gedung Sekolah Rakyat Provinsi Lampung.

"Total seluruhnya menjadi 401 siswa. Terdiri dari 270 siswa baru, ditambah 60 siswa SRT 35 Bandar Lampung, dan 71 siswa existing dari sekolah rintisan," jelas Aswarodi.

Ia menyampaikan aktivitas Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) diadakan selama dua hari, yakni pada 31 Juli hingga 1 Agustus 2026, sebelum proses belajar mengajar dimulai secara penuh.

Menurut Aswarodi, sebenarnya aktivitas pembelajaran dijadwalkan dimulai pada 13 Juli 2026. Namun pelaksanaannya terpaksa diundur karena beberapa fasilitas utama belum siap digunakan.

"Kita seharusnya mulai tanggal 13 Juli. Tetapi bangunan yang secara fungsional dibutuhkan belum selesai 100 persen, sehingga kita undurkan ke tanggal 31 Juli," ujarnya.

Ia menjelaskan saat ini seluruh fasilitas utama yang dibutuhkan untuk operasional sekolah sudah dapat digunakan.

"Alhamdulillah, sekarang asrama yang mampu menampung 401 siswa sudah siap. Ruang kelas sudah siap, tempat makan, aula, dan masjid juga sudah siap sehingga proses belajar mengajar bisa dimulai. Kita tetap mulai MPLS tanggal 1 Agustus. Kalau terlalu lama diundur, kita khawatir motivasi anak-anak menurun karena terlalu lama tidak sekolah, bahkan bisa saja ada yang mengundurkan diri," katanya.

Meski demikian, masih terdapat beberapa pembangunan daerah yang belum rampung, seperti penyelesaian asrama SD, penyempurnaan asrama SMA, guest house, lapangan sepak bola, serta beberapa fasilitas pendukung lainnya.

"pembangunan daerah sisanya masih berjalan. Berdasarkan informasi dari PT Brantas Abipraya dan Kementerian PUPR, target penyelesaiannya pada September 2026," ujarnya.

Aswarodi juga mengungkapkan bahwa proses penerimaan peserta didik tidak mengalami kendala pada jenjang SMA. Tantangan justru berada pada pencarian siswa jenjang SD karena konsep Sekolah Rakyat menggunakan sistem berasrama.

"Kita tidak kekurangan siswa. Untuk SMA tidak ada masalah, bahkan prioritas tetap diberikan kepada anak-anak putus sekolah. Yang menjadi tantangan justru jenjang SD. Bukan sulit mencari siswanya, tetapi meyakinkan orang tua agar mengizinkan anaknya tinggal di asrama. Karena anak-anak masih kecil, banyak orang tua yang belum rela melepas mereka tinggal di asrama," pungkasnya. (*)

Berita Terkait

Beranda Kategori Cari