BANDAR LAMPUNG, Tapis Media -
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Kristomei Sianturi bersama Orang nomor satu di Lampung Rahmat Mirzani Djausal meninjau langsung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kabupaten Lampung Timur, Sabtu (24/10/2026).
Dalam peninjauan tersebut, Kepala BNPB menyampaikan bahwa berdasarkan pemantauan data satelit hingga pukul 06.00 WIB, tercatat sebanyak 110 titik api di Provinsi Lampung. Dari jumlah tersebut, masih terdapat sekitar 68 hektare lahan yang belum berhasil dipadamkan.
Kristomei menjelaskan, upaya pemadaman terus dilakukan melalui pengerahan personel darat ke beberapa wilayah operasi.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan proses pemadaman berjalan efektif, terarah, dan mencapai target yang telah ditentukan.
"Berdasarkan data satelit pukul 06.00 tadi pagi, ada 110 titik api di Provinsi Lampung. Di antaranya, masih ada 68 hektare yang belum padam," ujar Kristomei.
Ia menjelaskan, BNPB bersama unsur terkait telah mengerahkan pasukan darat untuk melakukan pemadaman di titik-titik yang menjadi prioritas.
Selain itu, petugas juga memanfaatkan peralatan pendukung berupa pompa dan selang air untuk menjangkau area kebakaran.
Menurutnya, penggunaan pompa dan selang dengan panjang hampir tiga kilometer terbukti cukup efektif membantu proses pemadaman.
Karena itu, peralatan serupa akan diupayakan untuk ditambah guna memperluas jangkauan pemadaman di kawasan terdampak.
"Kita sudah menggunakan pompa dan selang yang panjangnya hampir tiga kilometer. Ternyata cukup efektif. Nanti akan kita perbanyak lagi agar pemadaman lebih efektif dan bisa menjangkau area yang lebih luas," katanya.
Di tengah upaya pemadaman yang masih berlangsung, Kristomei mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran hutan maupun lahan.
Ia menekankan, upaya penanggulangan karhutla membutuhkan kerja sama seluruh pihak, termasuk masyarakat yang berada di sekitar kawasan hutan.
Menurutnya, tidak seharusnya petugas dan relawan berjibaku memadamkan api sementara masih ada pihak yang melakukan pembakaran.
"Di satu sisi ada teman-teman kita yang berjuang untuk memadamkan api, tetapi di sisi lain masih ada saudara-saudara kita yang melakukan pembakaran. Mau sampai kapan ini? Jangan ada lagi pembakaran hutan," tegasnya.
Kristomei juga menyoroti lokasi kebakaran yang berada tidak jauh dari kawasan permukiman, khususnya di bagian utara TNWK.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena berpotensi menimbulkan gangguan bagi masyarakat, terutama akibat asap kebakaran.
Ia menjelaskan, berdasarkan kondisi yang terpantau, titik kebakaran berada di wilayah yang perlu mendapat perhatian serius.
Meski kawasan habitat gajah berada di bagian utara dan lokasi kebakaran disebut lebih banyak berada di bagian selatan, dampak terhadap lingkungan dan satwa liar tetap perlu diantisipasi.
Karena itu, ia menekankan pentingnya upaya pencegahan agar api tidak meluas dan tidak menimbulkan dampak yang lebih besar terhadap masyarakat maupun ekosistem di kawasan konservasi.
"Kalau bisa tidak ada api, kenapa harus ada api? Ini yang perlu kita jaga bersama," ujarnya.
Lebih lanjut, Kristomei menjelaskan pihaknya akan berkoordinasi dengan aparat penegak hukum, TNI, Polri, serta masyarakat peduli api untuk mengevaluasi penyebab kebakaran.
Evaluasi tersebut diperlukan untuk memastikan apakah kebakaran terjadi akibat faktor alam atau terdapat unsur kesengajaan dari pihak tertentu.
Menurutnya, lokasi kebakaran yang berada di dekat permukiman menjadi salah satu hal yang perlu ditelusuri lebih lanjut. Penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman, tetapi juga pada upaya mengidentifikasi penyebab agar kejadian serupa dapat dicegah.
"Kita akan bergerak bersama-sama dengan aparat penegak hukum, kepolisian, TNI, dan masyarakat peduli api untuk mengevaluasi penyebabnya. Apakah murni karena faktor alam atau memang ada perbuatan dari pihak-pihak yang berusaha membakar hutan," katanya.
Sementara itu, Orang nomor satu di Lampung Rahmat Mirzani Djausal menjelaskan bahwa kebakaran di kawasan TNWK telah dilaporkan sejak sekitar dua pekan sebelumnya oleh pihak pengelola taman nasional.
Menurut Mirza, pada tahap awal, kondisi lahan yang didominasi alang-alang relatif tidak terlalu sulit ditangani. Namun, situasi berkembang ketika titik-titik api mulai muncul di bagian utara kawasan sekitar dua pekan lalu, terutama di wilayah yang berbatasan dengan permukiman masyarakat.
Kondisi tersebut menyebabkan asap kebakaran mengganggu warga yang tinggal di kampung-kampung sekitar kawasan terdampak.
"Awalnya kebakaran sudah dilaporkan sekitar dua minggu lalu oleh teman-teman dari TNWK. Lahan yang terbakar berupa alang-alang sehingga relatif tidak terlalu sulit ditangani. Namun, sekitar dua minggu lalu mulai muncul titik-titik api di bagian utara yang berbatasan dengan masyarakat, sehingga asapnya mengganggu permukiman sekitar," ujar Mirza.
Ia menjelaskan, pemerintah daerah bersama BNPB dan berbagai unsur terkait terus berupaya mempercepat penanganan kebakaran.
Dukungan logistik, helikopter untuk water bombing, serta peralatan pemadaman berupa pipa dan selang air telah dikerahkan untuk membantu petugas di lapangan.
Mirza juga mengapresiasi dukungan BNPB yang selama beberapa pekan terakhir turut memperkuat penanganan karhutla di kawasan tersebut.
Menurutnya, upaya pemadaman menghadapi beberapa tantangan, mulai dari kecepatan angin yang tinggi, kondisi tanah gambut, hingga sulitnya menjangkau sumber air di beberapa titik.
“Alhamdulillah, berkat bantuan teman-teman dari BNPB, selama beberapa minggu ini logistik dikirim, termasuk helikopter untuk water bombing dan bantuan pipa-pipa untuk pemadaman," katanya.
Mirza menjelaskan, kondisi angin yang cukup kencang membuat api berpotensi lebih mudah menyebar. Selain itu, karakteristik tanah gambut turut menjadi tantangan karena proses pemadaman membutuhkan penanganan lebih intensif, terutama pada area yang sulit dijangkau.
Pengambilan air untuk kebutuhan pemadaman juga membutuhkan waktu lebih lama di beberapa lokasi. Oleh karena itu, pengerahan personel dan penambahan sarana pendukung menjadi bagian penting dalam mempercepat penanganan kebakaran.
Ia menyebutkan, sebanyak 360 personel telah dikerahkan untuk mendukung penanganan karhutla. Dari jumlah tersebut, sekitar 330 personel berasal dari TNI, sedangkan dukungan lainnya melibatkan Polri, BPBD, dan unsur terkait lainnya.
Dengan dukungan personel dan peralatan yang tersedia, upaya pemadaman saat ini disebut telah mampu menangani sekitar lima hektare lahan per hari.
"Teman-teman dari Kodam dan TNI mengerahkan bantuan. Total ada 360 personel, sekitar 330 dari TNI, ditambah dari Polri, BPBD, dan unsur lainnya. Saat ini, pemadaman sudah bisa mencapai sekitar lima hektare per hari," ungkapnya.